Bulan: November 2018

KOMPONEN-KOMPONEN DAN LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN DALAM SIKLUS AKUNTANSI (ACCOUNTING CYCLE)

Komponen-komponen pembentuk laporan keuangan, seperti: laporan posisi keuaangan, laporan kinerja keruangan, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan merupakan beberapa komponen terpenting yang ada di dalam laporan keuangan. Pada artikel kali ini praktisi software akuntansi akan sedikit membahas tentang bagaimana proses untuk pembentukan laporan keuangan. Proses tersebut sampai sekarang lebih dikenal dengan sebutan siklus akuntansi.

Siklus akuntansi (Accounting Cycle) merupakan sebuah alur siklus yang akan diawali dengan cara melakukan jurnal dan analisis atas bukti-bukti transaksi yang sudah terjadi sampai dengan melaporkannya dalam bentuk laporan keuangan. Pembuatan laporan keuangan sendiri akan digambarkan pada beberapa penjelasan seperti dibawah ini:

1. Menerima bukti-bukti transaksi.
2. Bukti transaksi yang sebelumnya telah diterima yang kemudian akan dianalisis untuk menentukan tentang bagaimana perlakuan akuntansinya.
3. Setelah jurnal sudah dibuat, maka transaksitransakss tersebut akan langsung terkumpul di dalam satu laporan jurnal umum. Laporan ini berisikan tentang semua transaksi-transaksi yang sebelumnya telah dijurnal pada periode waktu tertentu. Jurnal umum yang berfungsi untuk mencatat berbagai transaksi-transaksi untuk pertamakalinya, transaksi yang sudah tercatat berdasarkan pada waktu terjadinya transaksi tersebut. Secara berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya (Kronologis transaksi).
4. Setiap transaksi yang selanjutnya akan dikelompokan pada laporan buku besar berdasarkan dari kebijakan pihak manajemen. Buku besar yang berisikan tentang bermacam-macam pos dari sekian jenis transaksi yang sebelumnya telah dibukukan.
5. Dengan berdasarkan informasi pada buku besar, maka Buku besar pembantu akan dapat dibuat untuk menyajikan rincian dari buku besar. Biasanya lebih sering disebut dengan buku besar pembantu, buku besar khusus untuk menjelaskan setiap masing-masing pos tertentu.

Misalnya untuk transaksi penjualan yang dapat dikelompokan berdasarkan nama-nama konsumen, informasi yang telah didapatkan akan disampoaikan di dalam buku besar pembantu penjualan sebagai berikut :

• Tanggal terjadinya transaksi penjualan.
• Nomor faktur yang sudah digunakan untuk membeli (jika penjualan dilakukan secara kredit).
• Nama pembeli, dapat perorangan maupun badan.
• Jumlah nominal rupiah yang telah diterima/di bayarkan.
• Buku besar penerimaan uang yang dapat dikelompokan berdasarkan pada sumber uang yang sudah diterima. Informasi yang dapat disampaikan dalam buku besar pembantu adalah berupa penerimaan sebagai berikut :

• Tanggal kas diterima.
• Keterangan atas penerimaan kas.
• Pos pada rekening mana saja yang perlu di lakukan penambahan (Debet). Misalnya seperti peneriman kas, Bank A, Bank B, dan Bank C.
• Pos pada rekening mana saja yang merupakan sumber penerimaan kas (Kredit). Misalnya penerimaan dari penjualan, pelunasan piutang dan lain sebagainya.

Buku besar Pengeluaran uang dapat dikelompokan berdasarkan pada bermacam-macam pos yang menyebabkan terjadinya pengeluaran uang. Berbagai informasi yang akan dapat disampaikan dalam buku besar pembantu pengeluaran uang adalah sebagai berikut :

• Tanggal terjadinya transaksi pengeluaran uang.
• Nomor cek ke berapakah yang berhubungan langsung dengan pengeluaran uang.
• Pos-pos manakah yang bertambah karena disebabkan oleh adanya pengeluaran uang, misalnya seperti peralatan kantor, persediaan, berkurangnya hutang dan lain sebagainya.
• Pos-pos manakah yang telah berkurang dari kelompok pos kas dan setara kas akibat dari pengeluaran uang, misalnya dari kas conter, Bank A, Bank B, atau Bank C.

Buku besar pembelian dapat dibentuk hanya berdasarkan pada nama suplier. Informasi yang dapat disampaikan dalam buku besar pembantu pembelian adalah sebagai berikut :

• Tanggal terjadinya pembelian.
• Nomor order ke berapakah yang berhubungan langsung dengan pembelian.
• Nama supliernya.
• Barang yang sudah dibeli.
• Jumlah rupiah dari transaksi pembeliannya.

6. Saldo akhir pada setiap pos di dalam buku besar dapat digunakan untuk membentuk neraca lajur, kertas kerja akuntansi untuk membentuk laporan keuangan.
7. Setelah terbentuk neraca lajur, kita akan bisa membuat neraca saldo. Neraca Saldo yang merupakan daftar dari rekening-rekenig buku besar bersaldo debet dan kredit. Neraca saldo juga dapat berfungsi untuk memeriksa keseimbangan antara nilai debet dan kredit yang sudah tercatat dalam buku besar. Karena itulah maka neraca saldo seperti ini masih belum dipengaruhi sepenuhnya oleh jurnal penyesuaian, maka neraca saldo ini biasanya lebih sering disebut dengan neraca saldo sebelum penyesuaian. Membuat neraca saldo terlebih dahulu merupakan cara paling awal sebelum akan membuat ayat jurnal penyesuaian.
8. Setelah neraca lajur dibuat, maka bukti penyesuaian akan dikumpulkan. Setelah semua bukti-bukti terkumpul, maka selanjutnya kita bisa melakukan penyesuaian. Biasanya untuk penyesuaian yang berkaian dengan transaksi akrual. Misalnya seperti: Biaya yang dibayar terlebih dahulu untuk beberapa bulan kedepan harus diakui aktualisasinya untuk bulan ini, yaitu besarnya nilai yang harus dibebankan untuk bulan periode berjalan. Selain beban, pendapatan juga perlu dilakukan penyesuaian untuk menentukan besarnya pendapatan yang sudah diakui untuk periode berjalan.
9. Penyelesaian atas penyesuaian transaksi akan membentuk neraca saldo setelah penyesuaian. Neraca saldo ini lebih lengkap informasinya dibandingkan sebelum dilakukan penyesuaian. Perlu di perhatikan bahwa dalam melakukan proses ini, diperlukan adanya tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi agar proses pembentukan laporan keuangan bisa lebih tepat.
10. Laporan keuangan pertama kali yang dibuat adalah laporan kinerja keuangan (Financial Statement). Biasanya disebut dengan laporan laba rugi. Laporan ini akan menunjukan bagaimana kinerja perusahan yang akan ditunjukan dengan besarnya laba (rugi) pada periode tertentu. Besarnya angka laba akan ditentukan dengan cara mengurangkan besarnya pendapatan yang sudah diterima dengan beban-beban yang terjadi. Penyususnan laporan laba rugi seperti ini menggunakan prinsip matching konsep, yaitu menandingkan antara pendapatan dengan beban untuk memperoleh pendapatan itu sendiri.
11. Setelah laporan laba rugi sudah terbentuk, maka selanjutnya adalah dengan membuat Laporan Neraca. Nilai angka laba yang sudah terbentuk dari kinerja peusahaan akan langsung terakumulasi dengan nilai ekuitas, laba berjalan. Pos-pos pada neraca yang menggambarkan saldo akhir dari jumlah kekayaan perusahaan dan kewajibannya.
12. Laporan perubahan dari ekuitas yang kemudian bisa dibentuk, setelah terbentuknya laporan Neraca dan laporan laba rugi.
13. Laporan perubahan arus kas yang berisikan tentang perubahan dari arus kas dari berbagai aktifitas operasional, aktifitas investasi dan aktifitas pendanaan yang dapat diselesaikan setelah laporan perubahan ekuitas sudah terbentuk.
14. Menyiapkan penjelasan atas laporan keuangan, yang dapat disajikan di dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan yang berisikan tentang rincian atas pos-pos yang telah disajikan di dalam laporan keuangan dan berbagai macam kebijakan yang sudah digunakan oleh perusahaan.
15. Setelah beberapa proses diatas sudah diselesaikan, maka selanjutnya harus membuat jurnal penutup.

Nah, itulah beberapa penjelasan tentang bagaimana cara dalam menyiapkan laporan keuangan. Semoga bisa bermanfaat dalam menambah wawasan Anda sekalian tentang memberikan informasi kinerja perusahaan kepada para pengguna laporan keuangan. Mungkin setelah membaca artikel ini para pembaca sekalian masih merasa kesulitan dengan bagaimana cara untuk membuat laporan keuangan.

Bagi para pembaca yang perusahaannya belum memiliki aplikasi perangkat untuk membuat laporan keuangan, maka kami menyediakan software accounting (Finance and Accounting Software). Software tersebut dapat menyiapkan laporan keuangan yang dibutuhkan perusahaan Anda dan semakin memudahkan pekerjaan Anda. Silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda sekalian.

LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN PADA SAAT PROSES STOCK OPNAME PERSEDIAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan membahas artikel tentang bagaimana caranya dalam memeriksa akun persediaan perusahaan. Sebelum kita membahas yang lebih jauh tentang bagaimana lagkah-langkah yang harus dilakukan, maka terlebih dahulu kita akan mencoba untuk memahami kasus berikut yang berhubungan dengan persediaan perusahaan. Harapannya setelah membaca kasus ini, para pembaca sekalian akan dapat memahami betapa pentingnya pemeriksaan persediaan perusahaan. Simak baik-baik bagaimana contoh kasus berikut ini:

Pada PT. Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) sebelumnya pernah dikenakan denda berupa sanksi secara administratif sebesar Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Pihak direksi yang menjabat pada periode 1998 – Juni 2002 lalu diwajibkan untuk menyetorkan sejumlah uang Rp 1.000.000.000,- (Satu milyar rupiah) ke kas negara. Begitu juga dengan KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa selaku auditor yang diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp 100.000.000,- (Seratur juta rupiah). Mereka dikenakan denda disebabakan karena ikut terseret pada sejumlah rangkaian tindakan manipulasi laporan keuangan. Pihak Direksi PT. KAEF yang terbukti telah melakukan kecurangan dan Kantor Akuntan Publik yang memeriksanya juga sudah gagal untuk mendeteksi tindakan kecurangan yang sudah dilakukan oleh pihak direksi tersebut.

Kasus ini mencuat karena bermula dari hasil pemeriksaan ulang pada oktober 2002 lalu yang menyimpulkan bahwa laba yang telah disajikan pada laporan keuangannya (restatement) per 31 Desember 2001 lalu lebih rendah 24.7 % dari laba awal yang sebelumnya sudah pernah dilaporkan. Laba bersih yang sebelumnya telah dilaporkan untuk laporan keuangan auditan per 31 Desember 2001 adalah sebesar 132 Milyar, namun ketika sudah dilakukan proses audit kembali pada tahun 2002 lalu atas periode yang sama, malah nilai labanya adalah hanya sebesar Rp 99.56 Milyar, lebih rendah dari Rp 32.6 Milyar.

Selisih laba tersebut ternyata berasal dari overstated penjualan. Nilai pada persediaan yang sudah digelembungkan begitu besar oleh direktur produksinya, dimana nilai tersebut akan dijadikan sebagai dasar utama untuk proses penilaian persediaan pada unit distribusi per 31 Des 2001 lalu. Selain itu, mark up laba yang juga telah dilakukan dengan cara melakukan pencatatan ganda atas penjualannya.

Setelah membaca kasus di atas maka kita akan bisa sedikit memahami dan memiliki gambaran penting tentang sangat perlunya dilakukan pemeriksaan persediaan. Secara tidak langsung nilai persediaan akan sangat berdampak besar pada laba perusahaan. Maka agar bisa didapatkan angka laba yang lebih akurat dan dapat dipercaya, maka sangat perlu bagi kita untuk menetapkan angka persediaan dengan lebih tepat. Berikut ini merupakan sedikit penjelasan atas pemeriksaan persediaan perusahaan.

Tujuan utama dari dilakukannya penilaian persediaan (Stock opname) adalah untuk mengetahui berapa besarnya nilai persediaan secara fisiknya. Nilai persediaan dalam bentuk nyata, bukan berupa catatan. Dikarenakan akun persediaan sendiri merupakan bagian dari siklus pembelian, produksi dan juga penjualan, maka nilai persediaan akan tetap berkorelasi dengan saldo kas, Bank, piutang, hutang, diskon pembelian, diskon penjualan, retur pembelian, retur penjualan, harga pokok penjualan, dan lain sebagainya. Tergantung dari tingkat kompleksitas bisnis perusahaan.

Berikut dibawah ini praktisi software akuntansi akan menjelaskan tentang langkah-langkah secara teknis yang harus dilakukan pada saat proses opname persediaan mulai dari awal sampai pemeriksaan:

1. Tahap awal.

Tentukan terlebih dahulu siapa saja yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan persediaan ini. Tentukan juga waktu dan tanggal yang pas untuk dilakukannya proses pemeriksaan. Seperti halnya dengan pemeriksaan kas perusahaan, pemeriksaan persediaan juga harus didampingi oleh seseorang yang bertanggungjawab pada fungsi persediaan, yaitu salah satu orang dari bagian gudang.

2. Menginstruksikan kepada staff gudang agar menyiapkan persedian yang nantinya akan di hitung, termasuk juga untuk menata layout, mengelompokan (berdasarkan jenis, ukuran), dan merapikannya.

Tujuannya adalah agar pada saat proses pemeriksaan dilakukan tidak sampai terjadi kerancuan. Masalah yang seringkali terjadi adalah persedian yang berukuran kecil yang dimasukan pada kelompok persediaan yang berukuran besar, disebabkan karena terlalu terbatasnya ruang gudang. alasan inilah yang seringkali mengakibatkan pemeriksa akan salah dalam menetapkan angka persediaan dan pada akhirnya seringkali terjadi selisih antara perhitungan persediaan dengan nilai pada neraca dan/atau Buku besarnya.

3. Jangan lupa juga untuk memberikan instruksi kepada staff gudang agar memisahkan persediaan yang tidak perlu diperiksa. Persedian tersebut meliputi persedian titipan/Consignee, persedian yang rusak, persediaan yang diluar cut off, dan persediaan yang masuk pada saat terjadi proses pemeriksan sedang berlangsung.

Cut off disini maksudnya adalah sewaktu pisah batas, artinya adalah pemisahan obyek pemeriksaan berdasarkan pada waktu pemeriksaan. Misalnya pemeriksaan yang dilakukan pada taggal 20 April 2015. Maka data tentang persediaan yang nantinya akan diperiksa harus menunjukan saldo akhir per 19 April 2015, persediaan yang akan masuk pada tanggal setelah cut off tersebut tidak perlu dihitung. Usahakan pemilihan waktu pemeriksaan juga tidak bertepatan dangan waktu dari datangnya barang baru. Bagi perusahaan besar yang sudah menerapkan reorder point, ketepatan waktu dari datangnya persediaan juga sangat mempengaruhi besarnya beban penyimpanan persediaan.

Setelah tahap awal tersebut sudah selesai, maka sekarang mulai pada tahap pelaksanaan teknisnya, yaitu sebagai berikut:

• Pertama, Siapkan print out dari daftar persediaan yang nanti akan diperiksa, setidaknya memuat berbagai informasi tentang jenis barang, ukuran barang, nilai satuan, dan juga jumlah barang.
• Kedua, Berikan tanda pada persediaan yang sebelumnya telah diperiksa, agar tidak diperiksa kembali. Begitu pula dengan print out. Pemberian tanda pada print out harus juga berdasarkan pada hasil pemeriksaan dari lapangan.
• Ketiga, Setelah sudah diketahui nilai persediaan yang berdasarkan pada stock opname, maka kemudian akan dibandingkan dengan nilai persediaan berdasarkan dari catatan Neraca dan Buku besarnya.
• Keempat, Apabila telah ditemukan adanya ketidaksesuaian antara nilai persediaan yang sudah tercatat pada Neraca dengan nilai dari hasil opname. Maka dapat dilakukan pemeriksaan ulang atau langsung dilakukan jurnal koreksi. Apabila dari pihak gudang yang menyertai pemeriksaan menyarankan agar tidak perlu dilakukan pemeriksaan ulang, maka hasil opname dari persediaan tersebut memang sudah layak untuk digunakan.

Hanya tinggal menunggu pernyataan dari tim manajemen atas adanya selish saldo tersebut. *Komentar dari pihak manajemen biasanya untuk nilai selisih tidak material, masih dibawah batas toleransi perusahaan.

Cara untuk melakukan jurnal koreksi adalah dengan cara Mendebit akun persediaan apabila hasil opname jauh lebih besar daripada nilai yang sudah tercatat atau mengkredit akun persediaan apabila hasil dari opname jauh lebih kecil dari nilai yang sudah tercatat. Karena nilai dari hasil pemeriksaan fisik yang digunakan sebagai pedoman, maka pada saat pemeriksaan fisik auditor (Pemeriksa) harus melakukannya dengan sangat cermat. Selain melakukan jurnal koreksi untuk menyesuaikan nilai yang sudah tercatat tersebut, si pemeriksa perlu untuk meminta tanggapan dari pihak manajemen secara tertulis. Mintalah pihak manajemen untuk menuliskan alasan atas terjadinya selisih tersebut, jangan lupa untuk sekalian meminta tanda tangan.

Nah, itulah beberapa tips seputar pemeriksaan/opname pada saldo persediaan. Prosedur yang ditulis diatas mungkin saja akan sedikit berbeda dengan bagaimana kondisi perusahaan Anda, karena pembuatan prosedur pemeriksaan juga masih bergantung pada aliran kerja/work flow dan sistem pengendalian internal. Apabila para pembaca sekalian ingin memahami secara lebih mendalam tentang bagaimana cara untuk melakukan opname persedian dan membutuhkan konsultasi, para pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu pada pembahasan artikel selanjutnya dan salam sukses.

TRAINING EXCEL UNTUK PRAKTISI BISNIS “Mastering Excel Data Analysis”

Kali ini Implementor Software Accounting Surabaya, yaitu Groedu International Consultant Software akan menyelenggarakan event kedua tentang materi microsoft excel dengan judul ” Mastering Excel Data Analysis” Tujuan dari pelatihan ini adalah:

Untuk memberikan pelatihan kepada para staff maupun manajemen perusahaan untuk mengolah dan mengorganisir data serta melakukan analisa menggunakan fitur-fitur yang dimiliki Ms Excel. Pelatihan akan disampaikan dalam waktu 6 sessi selama dua hari. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini, maka para peserta akan mampu mengolah data-data dengan menggunakan :

Membuat Validasi data/Data Filtering/ Melakukan konsolidasi data/Membuat berbagai analisa data menggunakan PivotTable/ Melakukan analysa menggunakan fungsi-fungsi statistik/ Menyajikan dalam PivotChart.

Peserta diharapkan sudah memiliki kemampuan menggunakan Excel secara dasar serta membawa Laptop dengan Excel 2007 keatas.
Materi yang diajarkan:
1. Mengenal data Statis/ Data Realtime/ data yang di link dengan sumber lain.
2. Mengenal format data secara standar hingga custom format.
3. Memanfaatkan referensi bebas/ referensi absolud/ semi absolut.
4. Mengenal pengelolaan tabel secara profesional serta fitur-fitur otomatis dari suatu tabel Excel.
5. Mengenal berbagai teknik melakukan sort data, berbagai macam jenis data, pengurutan berdasarkan satu kunci hingga beberapa kunci pengurutan
6. Mengenal berbagai teknik melakukan filtering data hingga filter tingkat lanjut.
7. Berbagai teknik untuk melakukan data sekurity terlebih bila data tersebut akan dibagikan ke rekan kerja maupun pihak lain.
8. Menyiapkan data teks sebelum dilakukan analisis.
9. Memeriksa validitas data numerik yang di ambil dari aplikasi lain sebelum dilakukan kalkulasi, di hitung menggunakan formula Excel.
10. Mengenal data dalam satuan tanggal dan waktu sehingga peserta mampu membuat perhitungan waktu dalam satuan tahun, bulan, hari, jam hingga menit.
11. Mengenal fungsi-fungsi dalam membuat perhitungan hingga perhitungan bersyarat baik bersyarat tunggal maupun syarat ganda.
12. Menggunakan fungsi-fungsi utama Excel untuk menganalisa data, menampilkan data2 terbesar, terkecil, 5 data terbesar/ terkecil.
13. Menampilkan data bilangan dalam bentuk chart pada sel yang ditempati.
14. Mempersiapkan data yang akan di buat PivotTable.
15. Menganalisa data menggunakan PivotTable.
16. Menampilkan PivotChart kedalam sebuah laporan.
17. Menggunakan fungsi-fungsi statistik untuk menganalisa data.

Silahkan bagi peminat untuk pelatihan ini, bisa kontak ke nomor wa 081-252-982900. Anda akan mendapatkan diskon untuk 4 pendaftar pertama.

TIPS-TIPS TENTANG BAGAIMANA DALAM MENGENDALIKAN BEBAN/BIAYA PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini praktisi software akuntansi akan Berbagi tentang “TIPS-TIPS TENTANG BAGAIMANA DALAM MENGENDALIKAN BEBAN/BIAYA”. Artikel ini bertujuan untuk melengkapi artikel sebelumnya yang pernah ditulis dengan judul “STRATEGI BAGAIMANA DALAM MENURUNKAN BIAYA OPERASIONAL PERUSAHAAN YANG SEMAKIN MEMBENGKAK“. Dan pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang definisi sebenarnya dari beban/biaya. Beban merupakan satu bentuk pengeluaran, baik melalui kas secara langsung maupun yang tidak langsung. Beban akan semakin mengurangi pendapatan yang pada akirnya akan menjadi bagian terpenting dari pembentukan keuntungan atau laba. Jika perusahaan sudah mampu untuk mengelola beban perusahaan dengan lebih efisien, tentunya akan manfaatnya sendiri bukan.

Berikut ini merupakan beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk mengelola beban/biaya perusahaan Anda.

1. Melakukan Perawatan.

Perawatan yang dilakukan pada aset milik perusahaan dapat mengurangi kerusakan, dan mengurangi besarnya nilai penyusutan (Depreciation). Setiap asset pastinya memiliki masa manfaat yang terbatas, dan penilaian masa manfaat sendiri juga sangat ditentukan pada saat pengakuan awal. Meskipun asset memiliki masa manfaat yang sangat terbatas dan telah ditentukan, namun bukan berarti asset yang sudah tidak memiliki nilai dan masa manfaat sudah tidak dapat digunakan kembali dan asset dapat dinilai ulang melalui penilaian kembali (Revaluation) asset. Penilaian kembali seperti ini meliputi penilaian nilai manfaat dan juga masa manfaatnya.

2. Meningkatkan otorisasi perusahaan.

Setiap pembelian dari asset tentunya memerlukan dana. Didalam proses penyedian dana ini perusahaan memilki berbagai macam jenis prosedur yang harus dilewati dan harus dilakukan. Serta dari lamanya prosedur juga masih bergantung pada luasnya birokrasi yang harus ditempuh dan besarnya nilai dana yang dibutuhkan.

3. Kendalikan biaya Perolehannya.

Perusahaan dapat mengendalikan biaya perolehan (Cost) asset dengan cara lebih memperhatikan histori dari pembelian asset yang sebelumnya pernah terjadi dari tahun ke tahun. Menganalisis biaya-biaya yang sudah muncul dari pembelian asset-asset tersebut. Manajemn juga dapat memberikan keputusan apakah biaya yang sudah termasuk (include) dalam perolehan asset apakah sudah masuk akal/bernilai wajar atau tidak. Dengan adanya pertimbangan demikian, maka nilai asset yang dikaptalisasi akan jauh lebih mencerminkan nilai aslinya, segala biaya-biaya yang menyertainya dapat dikurangi, dan biaya yang tidak begitu penting dapat dieliminasi.

4. Menetapkan anggaran.

Perusahaan tentunya memiliki tujuan visi dan misi yang tercermin di dalam profil perusahaan. Parap pembaca tentunya dapat menemukan visi dan misi yang tertulis pada bagian profil di setiap laporan tahunan (annual report). Tujuan utama (Main project) dari perusahaan akan dibagi lagi ke dalam tujuan-tujuan terkecil dan dibagi kembali ke setiap masing-masing organisasi yang berbeda-beda. Dapat diartikan bahwa sebuah departemen merupakan bagian utama dari tujuan perusahaan. Bagi perusahaan dengan skala bisnis menengah keatas, tentunya mereka telah memilki tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) yang lebih baik. Salah satu indikatornya adalah dengan melihat ketersediaan informasi tentang angaran (Budgetting) milik perusahaan.

Kaitannya dengan pengendalian biaya, anggaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan merupakan atu alat yang dapat digunakan sebagai salah satu alat pengendalian. Anggaran perusahaan yang sudah dibentuk dari berbagai informasi-informasi yang sudah terjadi pada masa lalu. Sehingga, jika terdapat biaya yang tidak biasa, dan sangat tidak wajar maka identifikasi atas biaya tersebut akan menjadi jauh lebih mudah.

5. Bekerjasama dengan Pihak Bank.

Adakalanya perusahaan yang memiliki sumber daya keuangan yang sangat terbatas. Akan meminjan dana dari bank dan hal ini menjadi salah satu cara yang paling mudah untuk dilakukan daripada dengan cara menarik para investor. Keterbukaan Bank terhadap para calon debiturnya saat ini semakin meningkat. Perusahaan akan dapat bekerja sama dengan Bank dalam penentuan batas bunga pinjaman, apabila perusahaan merasa keberatan dengan begitu besarnya bunga yang nanti akan dibebankan.

6. Seleksi berdasarkan Prioritas Utama.

Perusahaan tentunya memilki perencanaan untuk menentukan masa depannya sendiri. Selain itu, Mereka juga memiliki banyak rencana yang kesemuanya merupakan prioritas. Jika ditulis dan didaftar, maka semua rencana yang membutuhkan dana, sebagian besar dari mereka akan menyatakan bahwa mereka memang membutuhkan modal tambahan. Saran bagi perusahaan yang memiliki banyak tujuan, sebaiknya tentukanlah pada keputusan yang menyediakan banyak pilihan ke depanya. Dan hal ini merupakan langkah yang paling startegis, dalam usaha untuk menghindarkan diri dari jalan buntu (stagnant).

7. Kurangi penggunaan kertas.

Dengan adanya program ramah lingkungan, dan kecanggihan teknologi yang sudah semakin meningkat. Maka kemampuan kertas sebagai salah satu media informasi akan dapat digantikan oleh media elektronik. Untuk saat ini media elektronik mampu memberikan fungsi yang hampir sama baiknya dengan fungsi kertas, sebagai media penyimpan dan berbagi informasi. Layana back up melalui cloud akan memberikan keutungan bagi perusahan, yaitu bia terbebas dari penyedian ruang simpan (Hard disk). Peralihan dari kertas kepada elektronik juga semakin mengurangi penyediaan tinta sebagai salah satu sarana untuk mencetak.

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, dan itulah sedikit penjelasan yang terkait dengan pengendalian beban/biaya. Diharapkan setelah membaca artikel ini, maka para pembaca sekalian akan dapat belajar agar mampu mengendalikan biaya-biaya perusahaannya. Bagi para pembaca sekalian yang ingin mengetahui secara lebih mendalam seputar pengendalian biaya ini, dan membutuhkan bimbingan serta konsultasi seputar permasalahan pengendalian biaya dan membutuhkan software accounting silahkan menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 atau 081-8521172. Kami siap membantu Anda. Sampai bertemu kembali pada pembahasan artikel selanjutnya. Terimakasih dan salam sukses.

Scroll to top