Bulan: Juli 2019

INTERNAL AUDIT GENERASI KE 3.0

Hingga saat ini, profesi audit internal masih belum urgen untuk dilakukan inovasi, apalagi kembali ke jati dirinya sendiri. Kini, ketika kita mendekati dan menghadapi ketidakpastian, berbagai organisasi menghadapi risiko strategis, reputasi, operasional, keuangan, peraturan, dan cyber yang terus menerus berubah. Dunia memasuki revolusi industri keempat di mana teknologi baru, digitalisasi, robot, dan kecerdasan buatan secara dramatis mengubah lingkungan bisnis.
Bersama dengan ketua komite audit, eksekutif, kepala eksekutif audit, dan pemimpin bisnis, sebuah laporan mengatakan bahwa telah ada perkembangan dalam perencanaan yang bertujuan mengklarifikasi harapan internal audit dan meminta pendukung untuk memenuhi hal ini, melakukan kodifikasi kembali elemen-elemen yang terpenting. Kami menyebutnya audit internal generasi ke 3.0, generasi audit internal berikutnya.

Berikut dibawah ini penjelasannya
Memberikan kepastian (Assurance), Nasihat (Advise) dan antisipasi (Anticipate) merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan atas fungsi internal audit.

kepastian (Assurance)
Memberikan Kepastian (Assurance) tetap menjadi peran inti dari fungsi internal audit. Akan tetapi berbagai kegiatan, masalah, dan risiko yang dihadapi tentunya harus jauh lebih luas dan lebih real-time daripada keadaan sebelumnya. Meskipun assurance merupakan pusat fungsi internal audit, komite audit tidak berhak memberikan batasan. Internal Audit generasi ke 3.0 akan dapat menguraikan tentang bagaimana berbagai fungsi dapat memenuhi permintaan pemangku kepentingan baik melalui pengembangan inovasi dan pemberdayaan teknologi.

Nasihat (Advise)
Memberikan saran dan rekomendasi perbaikan kepada manajemen tentang efektivitas pengendalian internal, perubahan, manajemen risiko, dan desain merupakan peran internal audit dan harapan dari pemangku kepentingan.
Sudah terlalu banyak internal auditor yang menggunakan “independensi” sebagai sandaran alasan untuk tetap berada di jalur mereka dan menghindari memberikan wawasan dan pendapat ketika sebagian besar pemangku kepentingan mengatakan ini adalah apa yang benar-benar mereka inginkan. Ketika memasuki era internal audit generasi ke 3.0, fungsi-fungsi dapat menghormati independensi bersamaan memberi nasehat kepada bisnis melalui promosi yang bersifat objektiv, berdasarkan pada integritas, dan menjunjung profesionalisme.

Antisipasi (Anticipate)
Melakukan antisipasi risiko, membantu manajemen dalam memahami risiko, menyusun pencegahan, serta merubah internal audit menjadi fungsi yang memandang ke belakang dengan melaporkan apa yang salah kemudian melakukan segala hal, sebelum semuanya terjadi. Internal Audit generasi ke 3.0 mengenalkan penginderaan dan pembelajaran risiko ke peran audit internal yang lebih baru yag lebih cocok dengan lingkungan saat ini, membantu dan mengatasi risiko yang muncul.
Bersamaan dengan perubahan generasi internal audit kini kita akan membahas Beberapa perubahan vertikal di dalam internal audit. Hal yang mendasari perubahan vertikal di dalam internal audit yakni perubahan produk, layanan, pasar, pelanggan, dan organisasi. Namun semua perubahan tidak sama.
Dibawah ini akan dijelaskan beberapa perbedaan antara Perubahan vertikal dengan horizontal.
Kecenderungan perusahaan melakukan hal yang sama di berbagai tempat. Misal, sebuah pabrik mobil memperluas penjualan dan pemasarannya ke Cina.
Kecenderungan untuk menciptakan produk “baru” dalam pasar yang telah ada. Pertimbangkan pembuat manisan global yang menambahkan tiga rasa ke dalam jajaran “tawar dan kacang” — kopi, madu, dan cabai. Apakah ini merupakan contoh dari cara untuk mengembangkan produk yang inovatif ?
Munculnya “R&D” dalam rencana strategi. Lindkvist berkata, R&D adalah singkatan dari “rip off and duplikat.”

Hal yang begitu kontras yakni motivasi di balik perubahan vertikal yang didefinisikan sebagai berikut:
• Secara aktif yang menghindari tren dan pemikiran kelompok, yang dapat menekan kreativitas.
• Menganggap masa depan akan sesuai dengan pengetahuan yang diketahui sebelumnya. Lakukan pengujian. Ajukan beberapa asumsi. Lakukan dengan lebih berani. “Lebih banyak yang sama” tidak menghasilkan apa-apa selain menghasilkan jumlah yang lebih besar tetapi sama.
• Takut mengalami kegagalan — ini merupakan langkah terbaik dan terpenting dalam menuju kesuksesan. Kembangkan kegagalan agar menjadi lebih produktif. Gambar dan bagikan pelajaran dari setiap upaya. Tetap lakukan cara berpikir yang positif: Ini sebenarnya bukan kegagalan; itu “sukses yang tertunda.”.

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan mengenai internal audit generasi ke 3.0. Apabila pembaca membutuhkan konsultasi manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan butuh Accounting Software pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

PROSEDUR PENGELUARAN KAS KECIL

Pada Kesempatan kali ini Konsultan Manajemen Groedu international consultant akan berbagi tips mengenai prosedur pengeluaran kas kecil (Petty Cash).
Laporan keuangan diawali dengan menerima transaksi, lalu kemudian mengklasifkasikan dan mencatatnya. Dalam proses pencatatan bukti transaksi tidak semua staff berhak melakukannya, hanya staf yang berkaitan dengan tugas yang diijinkan. Maka dengan demikian perlu dibentuk sebuah sistem dan prosedur yang berfungsi untuk memproses Informasi baik transaksi keuangan dan non keuangan.

Berikut dibawah ini Prosedur umum dalam mekanisme pengeluaran kas kecil :
1. Karyawan meminta dana kepada bagian keuangan (Finance) sebesar atau kurang dari Rp 1.000.000,- dari dana kas kecil untuk membeli kebutuhan perusahaan.
2. Bagian keuangan memberikan dana yang diminta oleh karyawan
3. Karyawan membeli barang yang dibutuhkan.
4. Karyawan mengisi formulir pengeluaran kas kecil atau Bukti Pengeluaran Kas, degan tidak lupa melampirkan bukti transaksi seperti kwitansi (asli), atau bukti lain yang relevan.
5. Bukti pengeluaran kas kemudian diterima oleh bagian keuangan.
6. Bagian keuangan memeriksa kelengkapan dan validitas Bukti pengeluaran kas beserta bukti transaksinya.
7. Bagian keuangan boleh mengembalikan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila dinilai kurang informatif atau perlu diperbaiki.
8. Bagian keuangan kemudian memberikan tanda tangan pada Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila sudah diverifikasi dan dinilai lengkap dan benar.
9. Bagian Keuangan meneruskan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) ke General Manager sebagai tanda bahwa manajer perlu mengetahui dan menyetujui pengeluaran kas untuk transaksi tersebut.
10. Bukti Pengeluaran Kas yang telah lengkap tanda tangannya kemudian di input ke dalam software accounting atau di rekap pada aplikasi lainnya.
11. Bagian Keuangan (Finance) melaporkan semua transaksi pengeluaran kas ke pada Bagian akuntasi (Accounting) agar dicatat sebagai pengeluaran bulanan.

Dibawah ini beberapa tips yang dapat digunakan untuk membuat prosedur pengeluaran kas kecil.
Pengendalian yang Sederhana
Pengendalian memang penting untuk menjaga harta perusahaan. Sebagai pengendalian atas dana kas kecil, manajemen memberlakukan kebijakan agar setiap transaksi ditandatangani oleh pihak-pihak yang berwenang seperti bagian keuangan dan General manager. Akan tetapi, agar dana kas dapat terkendali lebih baik dan tidak menambah pekerjaan administrasi petinggi perusahaan, maka  manajemen perlu membentuk kebijakan pada otorisasi kas kecil. Misalnya Hanya pengeluaran diatas Rp 1.000.000,- yang membutuhkan persetujuan General manajer, transaksi dibawahnya hanya diotorisasi oleh bagian keuangan.

Memperbesar Nilai Saldo
Persetujuan yang terlalu panjang memang meningkatkan pengendalian harta perusahaan, tetapi juga akan menciptakan masalah baru. Masalah yang sering muncul ialah disaat permintaan kas kecil meningkat. Pengendalian yang terlalu berlebihan dan ketat dapat menyebabkan pembayaran menjadi tertunda. Jika masalah terletak pada jumlah ketersediaan dana pada kas kecil, manajemen dapat meningkatkan saldo kas kecil. tetapi jika masalah pada pertimbangan persetujuan (approval), langkah bijaknya ialah menetapkan kebutuhan approval sesuai dengan besarnya kebutuhan dana.

Nah, itulah tips seputar prosedur pengeluaran kas kecil. Apabila pembaca ingin memahami lebih dalam prosedur pengeluaran kas kecil, membutuhkan konsultasi manajemen, dan membutuhkan Software Accounting pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 (wa) atau 081-8521172 (Office). Kami siap membantu anda. atau isi form di sini.

PROSEDUR PENGELUARAN KAS KECIL

Pada Kesempatan kali ini Konsultan Manajemen Groedu  akan berbagi tips mengenai prosedur pengeluaran kas kecil (Petty Cash).
Laporan keuangan diawali dengan menerima transaksi, lalu kemudian mengklasifkasikan dan mencatatnya. Dalam proses pencatatan bukti transaksi tidak semua staff berhak melakukannya, hanya staf yang berkaitan dengan tugas yang diijinkan. Maka dengan demikian perlu dibentuk sebuah sistem dan prosedur yang berfungsi untuk memproses Informasi baik transaksi keuangan dan non keuangan.

Berikut dibawah ini Prosedur umum dalam mekanisme pengeluaran kas kecil :
1. Karyawan meminta dana kepada bagian keuangan (Finance) sebesar atau kurang dari Rp 1.000.000,- dari dana kas kecil untuk membeli kebutuhan perusahaan.
2. Bagian keuangan memberikan dana yang diminta oleh karyawan
3. Karyawan membeli barang yang dibutuhkan.
4. Karyawan mengisi formulir pengeluaran kas kecil atau Bukti Pengeluaran Kas, degan tidak lupa melampirkan bukti transaksi seperti kwitansi (asli), atau bukti lain yang relevan.
5. Bukti pengeluaran kas kemudian diterima oleh bagian keuangan.
6. Bagian keuangan memeriksa kelengkapan dan validitas Bukti pengeluaran kas beserta bukti transaksinya.
7. Bagian keuangan boleh mengembalikan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila dinilai kurang informatif atau perlu diperbaiki.
8. Bagian keuangan kemudian memberikan tanda tangan pada Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila sudah diverifikasi dan dinilai lengkap dan benar.
9. Bagian Keuangan meneruskan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) ke General Manager sebagai tanda bahwa manajer perlu mengetahui dan menyetujui pengeluaran kas untuk transaksi tersebut.
10. Bukti Pengeluaran Kas yang telah lengkap tanda tangannya kemudian di input ke dalam software accounting atau di rekap pada aplikasi lainnya.
11. Bagian Keuangan (Finance) melaporkan semua transaksi pengeluaran kas ke pada Bagian akuntasi (Accounting) agar dicatat sebagai pengeluaran bulanan.

Dibawah ini beberapa tips yang dapat digunakan untuk membuat prosedur pengeluaran kas kecil.
Pengendalian yang Sederhana
Pengendalian memang penting untuk menjaga harta perusahaan. Sebagai pengendalian atas dana kas kecil, manajemen memberlakukan kebijakan agar setiap transaksi ditandatangani oleh pihak-pihak yang berwenang seperti bagian keuangan dan General manager. Akan tetapi, agar dana kas dapat terkendali lebih baik dan tidak menambah pekerjaan administrasi petinggi perusahaan, maka perlu manajemen perlu membentuk kebijakan pada otorisasi kas kecil. Misalnya Hanya pengeluaran diatas Rp 1.000.000,- yang membutuhkan persetujuan General manajer, transaksi dibawahnya hanya diotorisasi oleh bagain keuangan.

Memperbesar Nilai Saldo
Persetujuan yang terlalu panjang memang meningkatkan pengendalian harta perusahaan, tetapi juga akan menciptakan masalah baru. Masalah yang sering muncul ialah disaat permintaan kas kecil meningkat. Pengendalian yang terlalu berlebihan dan ketat dapat menyebabkan pembayaran menjadi tertunda. Jika masalah terletak pada jumlah ketersediaan dana pada kas kecil, manajemen dapat meningkatkan saldo kas kecil. tetapi jika masalah pada pertimbangan persetujuan (approval), langakah bijaknya ialah menetapkan kebutuhan approval sesuai dengan besarnya kebutuhan dana.

Nah, itulah tips seputar prosedur pengeluaran kas kecil. Apabila pembaca ingin memahami lebih dalam prosedur pengeluaran kas kecil, membutuhkan konsultasi manajemen, dan membutuhkan Software Accounting pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 (wa) atau 081-8521172 (Office). Kami siap membantu
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya

TIPS MENGELOLA KAS KECIL PERUSAHAAN

Pada Kesempatan kali ini Konsultan Manajemen Groedu international Consultant akan membahas tips pengelolaan kas kecil (Petty Cash). Pada kesempatan lalu penjelasan kami terakhir pada kriteria  yang perlu dimiliki oleh seseorang sehingga cocok ditempatkan pada posisi kasir. Setelah memahami pengelolaan kas kecil mulai dari penetapan metode hingga rekruitmen sekarang lanjut pada penjelasan lainnya. Yakni dimulai dari pengisian awal dana Kas kecil.

Pengisian Awal Dana Kas Kecil
Pada awal pengisian dana kas kecil, kasir meminta bagian keuangan (Finance) untuk menyetor sejumlah uang tunai ke kas kecil baik dari kas besar maupun dari Bank. Uang yang diterima secara fisik oleh kasir kemudian dihitung dan dibuatkan tanda terima.
Uang yang diterima oleh kasir selanjutnya disimpan di dalam laci atau petty cash box, brankas, atau minimal sebuah amplop. Tergantung besar kecilnya dana kas kecil.
Apabila dana kas kecil sudah habis, kasir dapat meminta bagian keuangan (Finance) untuk mengisi kembali. Mengenai tata cara pencatatan disesuaikan dengan metode yang digunakan. Kasir mengajukan permohonan pengisian kas kecil dengan mengisi Form transfer dana ke kas kecil.

Penggunaan Kas kecil
Disaat perusahaan dihadapkan pada transaksi yang memerlukan pembayaran dengan menggunakan kas kecil, kasir dapat mengeluarkan uang tunai dari kas kecil untuk melakukan pembayaran. Besarnya pembayaran tidak boleh melebihi dana yang tersedia. Setelah melakukan pembayaran transaksi, kasir kemudian mencatatnya pada buku kas atas jenis transaksi (Pos) tersebut. Bukti pengeluaran berupa Nota pembelian (Invoice) juga harus diarsip dengan rapi sebagai bentuk pertanggung jawaban kasir kepada bagian keuangan.

Pemeriksaan Saldo Kas (Cash Opname)
Menjelang berakhirnya periode akuntansi kasir diwajibkan untuk menghitung dana kas kecil yang tersisa (Cash on Hand), kegiatan ini rutin dilakukan setiap bulan. Tujuannya agar dapat diketahui berapa saldo uang kas secara fisik, dan mengetahui kesesuaian dengan saldo akhir pada buku besar (General ledger).
Melakukan kas opname harus teliti dan sabar, sebab jika terdapat selisih antara saldo akhir dari perhitungan dengan saldo akhir berdasarkan catatan maka kasir akan melakukan penghitungan kembali (rework).
Agar hasil yang didapatkan lebih obyektif, sebaiknya dalam penghitungan kas kecil dilakukan oleh dua orang lebih. Pertama, pemeriksa atau internal auditor jika ada, dan kedua adalah kasir. Pemeriksaan diawali dengan kasir menunjukan semua uang tunai yang tersimpan di dalam kas kecil dan menyaksikan pemeriksaan dan penghitungan. Setelah proses opname berakhir, kasir melanjutkan dengan menandatangani lembar hasil pemeriksaan yang berisikan perincian uang tunai yang ada dibarengi dengan pemeriksa mengembalikan uang tunai.

Nah, itulah tips seputar cara mengelola kas kecil. Apabila pembaca ingin memahami lebih dalam cara mengelola kas kecil, membutuhkan konsultasi manajemen, dan membutuhkan Software Accounting pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 atau 081-8521172 (Office). Kami siap membantu anda.

Scroll to top