BERITA

Informasi terkini seputar Manajemen, Accounting, Sumber daya manusia, Ritel Management, Teknologi Informasi

CARA MENGELOLA UTANG USAHA AGAR KONDISI KEUANGAN PERUSAHAAN STABIL

Pada Kesempatan kali ini Konsultan Manajemen Groedu International consultant kembali berbagi informasi mengenai Cara mengelola utang usaha agar kondisi keuangan stabil.
Utang merupakan sumber pendanaan perusahaan selain dari modal disetor. Pinjaman utang berguna untuk mempercepat perkembangan perusahaan. Besarnya nilai utang biasanya disesuaikan kebutuhan yang dapat didasarkan pada rencana anggaran, atau grand project perusahaan. Agar kelancaran rencana perusahaan terjaga maka apabila terkendala pada penyetoran modal untuk mendukung aktivitas tersebut, cara lainnya yaitu dengan melakukan peminjaman dana / berhutang.
Meski utang berperan dalam penyediaan dana akan tetapi tidak memberikan jaminan bahwa perusahaan akan terbebas dari resiko yang melekat pada utang dan mampu secara efektif dan efisien mengelola utang.

Sebelum membahas cara pengelolaan utang maka sebagai pendahuluan kita perlu mengenal macam-macam jenis utang, pengklasifikasian utang berdasarkan pada waktu jatuh temponya :
a. Utang jangka pendek (Short Term Liability)
Utang jangka pendek merupakan utang yang memiliki waktu jatuh tempo, pelunasan kurang dari satu tahun (12 Bulan).

b. Utang jangka menengah
Merupakan jenis utang yang waktu jatuh temponya berada pada rentang satu hingga sepuluh tahun. Adakalanya hal ini berbeda dengan kondisi di lapangan karena pengklasfikasian jenis utang didasarkan pada kebijakan perusahaan.

c. Utang jangka panjang (Long Term Liability)
Jenis utang yang dimiliki perusahaan dengan masa jatuh tempo waktu pelunasan lebih dari sepuluh tahun. Utang jangka panjang akan diletakan pada neraca dengan posisi paling bawah, didasarkan pada waktu pembayarannya dan pelunasannya.

Setelah mengetahui jenis-jenis utang, yakni terdiri dari utang jangka pendek, utang jangka menengah dan utang jangka panjang. Sekarang kami akan mulai membahas cara mengelola utang agar stabilitas keuangan perusahaan tetap terjaga.
1. Menentukan prioritas
Prioritas utang didasarkan pada penilaian dampak baik manfaat dan resiko yang melekat pada utang tersebut. Hindarkan pada penilaian yang berdasarkan pada seberapa besar beserta bunganya yang akan di bayar perusahaan. Berdasarkan manfaat dan resiko bukan jumlah.

2. Sesuaikan dengan anggaran
Jumlah pinjaman mesti disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang biasanya tercermin pada anggaran dasar. Sebuah proyeksi laporan keuangan yang terbagi menjadi beberapa divisi perusahaan. Perusahaan perlu memerhatikan besarnya aliran kas yang berasal pendapatan dan pengeluaran. Apabila dalam peninjauan ditemukan bahwa terjadi defisit laporan keuangan, maka perusahaan harus melakukan langkah tepat dengan mengurangi pengeluaran.

3. Negosiasi
Apabila perusahaan keberatan terkait dengan besarnya suku bunga perusahaan, maka perusahaan dapat melakukan negosiasi agar pihak pemberi pinjaman bersedia menurunkan bunga pinjamannya. Paling tidak melonggarkan syarat pembayarannya. Jangka waktu (Jatuh tempo) pembayarannya / termin dapat diundurkan.

4. Rencana B
Agar perusahaan siap dengan kemungkinan terburuk yang diakibatkan oleh sebuah even. Maka perusahaan perlu menyiapkan rencana cadangan (Plan B). Setelah mengajukan dan dapatkan dana pinjaman maka perusahaan dihadapkan pada resiko. Oleh sebab itu agar dapat memanage resiko perusahaan mesti harus berhati-hati dalam mengelola dana pinjaman. Agar dana pinjaman lebih terasa manfaatnya, hindarkan pada penggunaan untuk membayar pinjaman lain atau membayar deviden pemegang saham.

5. Menggabungkan utang
Adakalanya perusahaan memiliki banyak utang atau pinjaman dari berbagai sumber yang mesti harus dibayar. Maka perusahaan perlu melakukan manajemen utang agar pengelolaan utang lebih efektif dan efisien. Salah satunya ialah dengan membuat satu poin untuk pembayaran utang. Poin tersebut berisikan informasi mengenai waktu yang diharuskan untuk membayar utang, jumlah yang harus dibayar, pinjaman kepada siapa dan mekanisme pambayarannya seperti apa..?

6. Kemungkinan terdapat masalah utang yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh perusahaan dan memerlukan pihak-pihak tertentu. Misalnya terkait dengan nilai Aset yang dijadikan jaminan, sehingga memerlukan pihak ketiga seperti Appraisal untuk melakukan penilaian kembali aset tetap.
Masalah lainnya yaitu Informasi yang disajikan. Agar perusahaan mendapatkan informasi lebih jelas dan kompleks, maka saatnya perusahaan memerlukan Software Accounting.
Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan mengenai cara mengelola utang. Apabila pembaca membutuhkan konsultasi manajemen, training pengelolaan AR untuk Tim penjualan/Sales force/Sales Supervisor/Manager/ serta membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) perusahaan dan butuh Accounting Software pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu anda. Klik di sini dan isi form untuk konsultasi dan training.

INTERNAL AUDIT GENERASI KE 3.0

Hingga saat ini, profesi audit internal masih belum urgen untuk dilakukan inovasi, apalagi kembali ke jati dirinya sendiri. Kini, ketika kita mendekati dan menghadapi ketidakpastian, berbagai organisasi menghadapi risiko strategis, reputasi, operasional, keuangan, peraturan, dan cyber yang terus menerus berubah. Dunia memasuki revolusi industri keempat di mana teknologi baru, digitalisasi, robot, dan kecerdasan buatan secara dramatis mengubah lingkungan bisnis.
Bersama dengan ketua komite audit, eksekutif, kepala eksekutif audit, dan pemimpin bisnis, sebuah laporan mengatakan bahwa telah ada perkembangan dalam perencanaan yang bertujuan mengklarifikasi harapan internal audit dan meminta pendukung untuk memenuhi hal ini, melakukan kodifikasi kembali elemen-elemen yang terpenting. Kami menyebutnya audit internal generasi ke 3.0, generasi audit internal berikutnya.

Berikut dibawah ini penjelasannya
Memberikan kepastian (Assurance), Nasihat (Advise) dan antisipasi (Anticipate) merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan atas fungsi internal audit.

kepastian (Assurance)
Memberikan Kepastian (Assurance) tetap menjadi peran inti dari fungsi internal audit. Akan tetapi berbagai kegiatan, masalah, dan risiko yang dihadapi tentunya harus jauh lebih luas dan lebih real-time daripada keadaan sebelumnya. Meskipun assurance merupakan pusat fungsi internal audit, komite audit tidak berhak memberikan batasan. Internal Audit generasi ke 3.0 akan dapat menguraikan tentang bagaimana berbagai fungsi dapat memenuhi permintaan pemangku kepentingan baik melalui pengembangan inovasi dan pemberdayaan teknologi.

Nasihat (Advise)
Memberikan saran dan rekomendasi perbaikan kepada manajemen tentang efektivitas pengendalian internal, perubahan, manajemen risiko, dan desain merupakan peran internal audit dan harapan dari pemangku kepentingan.
Sudah terlalu banyak internal auditor yang menggunakan “independensi” sebagai sandaran alasan untuk tetap berada di jalur mereka dan menghindari memberikan wawasan dan pendapat ketika sebagian besar pemangku kepentingan mengatakan ini adalah apa yang benar-benar mereka inginkan. Ketika memasuki era internal audit generasi ke 3.0, fungsi-fungsi dapat menghormati independensi bersamaan memberi nasehat kepada bisnis melalui promosi yang bersifat objektiv, berdasarkan pada integritas, dan menjunjung profesionalisme.

Antisipasi (Anticipate)
Melakukan antisipasi risiko, membantu manajemen dalam memahami risiko, menyusun pencegahan, serta merubah internal audit menjadi fungsi yang memandang ke belakang dengan melaporkan apa yang salah kemudian melakukan segala hal, sebelum semuanya terjadi. Internal Audit generasi ke 3.0 mengenalkan penginderaan dan pembelajaran risiko ke peran audit internal yang lebih baru yag lebih cocok dengan lingkungan saat ini, membantu dan mengatasi risiko yang muncul.
Bersamaan dengan perubahan generasi internal audit kini kita akan membahas Beberapa perubahan vertikal di dalam internal audit. Hal yang mendasari perubahan vertikal di dalam internal audit yakni perubahan produk, layanan, pasar, pelanggan, dan organisasi. Namun semua perubahan tidak sama.
Dibawah ini akan dijelaskan beberapa perbedaan antara Perubahan vertikal dengan horizontal.
Kecenderungan perusahaan melakukan hal yang sama di berbagai tempat. Misal, sebuah pabrik mobil memperluas penjualan dan pemasarannya ke Cina.
Kecenderungan untuk menciptakan produk “baru” dalam pasar yang telah ada. Pertimbangkan pembuat manisan global yang menambahkan tiga rasa ke dalam jajaran “tawar dan kacang” — kopi, madu, dan cabai. Apakah ini merupakan contoh dari cara untuk mengembangkan produk yang inovatif ?
Munculnya “R&D” dalam rencana strategi. Lindkvist berkata, R&D adalah singkatan dari “rip off and duplikat.”

Hal yang begitu kontras yakni motivasi di balik perubahan vertikal yang didefinisikan sebagai berikut:
• Secara aktif yang menghindari tren dan pemikiran kelompok, yang dapat menekan kreativitas.
• Menganggap masa depan akan sesuai dengan pengetahuan yang diketahui sebelumnya. Lakukan pengujian. Ajukan beberapa asumsi. Lakukan dengan lebih berani. “Lebih banyak yang sama” tidak menghasilkan apa-apa selain menghasilkan jumlah yang lebih besar tetapi sama.
• Takut mengalami kegagalan — ini merupakan langkah terbaik dan terpenting dalam menuju kesuksesan. Kembangkan kegagalan agar menjadi lebih produktif. Gambar dan bagikan pelajaran dari setiap upaya. Tetap lakukan cara berpikir yang positif: Ini sebenarnya bukan kegagalan; itu “sukses yang tertunda.”.

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan mengenai internal audit generasi ke 3.0. Apabila pembaca membutuhkan konsultasi manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan butuh Accounting Software pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya.

PROSEDUR PENGELUARAN KAS KECIL

Pada Kesempatan kali ini Konsultan Manajemen Groedu international consultant akan berbagi tips mengenai prosedur pengeluaran kas kecil (Petty Cash).
Laporan keuangan diawali dengan menerima transaksi, lalu kemudian mengklasifkasikan dan mencatatnya. Dalam proses pencatatan bukti transaksi tidak semua staff berhak melakukannya, hanya staf yang berkaitan dengan tugas yang diijinkan. Maka dengan demikian perlu dibentuk sebuah sistem dan prosedur yang berfungsi untuk memproses Informasi baik transaksi keuangan dan non keuangan.

Berikut dibawah ini Prosedur umum dalam mekanisme pengeluaran kas kecil :
1. Karyawan meminta dana kepada bagian keuangan (Finance) sebesar atau kurang dari Rp 1.000.000,- dari dana kas kecil untuk membeli kebutuhan perusahaan.
2. Bagian keuangan memberikan dana yang diminta oleh karyawan
3. Karyawan membeli barang yang dibutuhkan.
4. Karyawan mengisi formulir pengeluaran kas kecil atau Bukti Pengeluaran Kas, degan tidak lupa melampirkan bukti transaksi seperti kwitansi (asli), atau bukti lain yang relevan.
5. Bukti pengeluaran kas kemudian diterima oleh bagian keuangan.
6. Bagian keuangan memeriksa kelengkapan dan validitas Bukti pengeluaran kas beserta bukti transaksinya.
7. Bagian keuangan boleh mengembalikan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila dinilai kurang informatif atau perlu diperbaiki.
8. Bagian keuangan kemudian memberikan tanda tangan pada Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila sudah diverifikasi dan dinilai lengkap dan benar.
9. Bagian Keuangan meneruskan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) ke General Manager sebagai tanda bahwa manajer perlu mengetahui dan menyetujui pengeluaran kas untuk transaksi tersebut.
10. Bukti Pengeluaran Kas yang telah lengkap tanda tangannya kemudian di input ke dalam software accounting atau di rekap pada aplikasi lainnya.
11. Bagian Keuangan (Finance) melaporkan semua transaksi pengeluaran kas ke pada Bagian akuntasi (Accounting) agar dicatat sebagai pengeluaran bulanan.

Dibawah ini beberapa tips yang dapat digunakan untuk membuat prosedur pengeluaran kas kecil.
Pengendalian yang Sederhana
Pengendalian memang penting untuk menjaga harta perusahaan. Sebagai pengendalian atas dana kas kecil, manajemen memberlakukan kebijakan agar setiap transaksi ditandatangani oleh pihak-pihak yang berwenang seperti bagian keuangan dan General manager. Akan tetapi, agar dana kas dapat terkendali lebih baik dan tidak menambah pekerjaan administrasi petinggi perusahaan, maka  manajemen perlu membentuk kebijakan pada otorisasi kas kecil. Misalnya Hanya pengeluaran diatas Rp 1.000.000,- yang membutuhkan persetujuan General manajer, transaksi dibawahnya hanya diotorisasi oleh bagian keuangan.

Memperbesar Nilai Saldo
Persetujuan yang terlalu panjang memang meningkatkan pengendalian harta perusahaan, tetapi juga akan menciptakan masalah baru. Masalah yang sering muncul ialah disaat permintaan kas kecil meningkat. Pengendalian yang terlalu berlebihan dan ketat dapat menyebabkan pembayaran menjadi tertunda. Jika masalah terletak pada jumlah ketersediaan dana pada kas kecil, manajemen dapat meningkatkan saldo kas kecil. tetapi jika masalah pada pertimbangan persetujuan (approval), langkah bijaknya ialah menetapkan kebutuhan approval sesuai dengan besarnya kebutuhan dana.

Nah, itulah tips seputar prosedur pengeluaran kas kecil. Apabila pembaca ingin memahami lebih dalam prosedur pengeluaran kas kecil, membutuhkan konsultasi manajemen, dan membutuhkan Software Accounting pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 (wa) atau 081-8521172 (Office). Kami siap membantu anda. atau isi form di sini.

PROSEDUR PENGELUARAN KAS KECIL

Pada Kesempatan kali ini Konsultan Manajemen Groedu  akan berbagi tips mengenai prosedur pengeluaran kas kecil (Petty Cash).
Laporan keuangan diawali dengan menerima transaksi, lalu kemudian mengklasifkasikan dan mencatatnya. Dalam proses pencatatan bukti transaksi tidak semua staff berhak melakukannya, hanya staf yang berkaitan dengan tugas yang diijinkan. Maka dengan demikian perlu dibentuk sebuah sistem dan prosedur yang berfungsi untuk memproses Informasi baik transaksi keuangan dan non keuangan.

Berikut dibawah ini Prosedur umum dalam mekanisme pengeluaran kas kecil :
1. Karyawan meminta dana kepada bagian keuangan (Finance) sebesar atau kurang dari Rp 1.000.000,- dari dana kas kecil untuk membeli kebutuhan perusahaan.
2. Bagian keuangan memberikan dana yang diminta oleh karyawan
3. Karyawan membeli barang yang dibutuhkan.
4. Karyawan mengisi formulir pengeluaran kas kecil atau Bukti Pengeluaran Kas, degan tidak lupa melampirkan bukti transaksi seperti kwitansi (asli), atau bukti lain yang relevan.
5. Bukti pengeluaran kas kemudian diterima oleh bagian keuangan.
6. Bagian keuangan memeriksa kelengkapan dan validitas Bukti pengeluaran kas beserta bukti transaksinya.
7. Bagian keuangan boleh mengembalikan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila dinilai kurang informatif atau perlu diperbaiki.
8. Bagian keuangan kemudian memberikan tanda tangan pada Bukti Pengeluaran Kas (BPK) apabila sudah diverifikasi dan dinilai lengkap dan benar.
9. Bagian Keuangan meneruskan Bukti Pengeluaran Kas (BPK) ke General Manager sebagai tanda bahwa manajer perlu mengetahui dan menyetujui pengeluaran kas untuk transaksi tersebut.
10. Bukti Pengeluaran Kas yang telah lengkap tanda tangannya kemudian di input ke dalam software accounting atau di rekap pada aplikasi lainnya.
11. Bagian Keuangan (Finance) melaporkan semua transaksi pengeluaran kas ke pada Bagian akuntasi (Accounting) agar dicatat sebagai pengeluaran bulanan.

Dibawah ini beberapa tips yang dapat digunakan untuk membuat prosedur pengeluaran kas kecil.
Pengendalian yang Sederhana
Pengendalian memang penting untuk menjaga harta perusahaan. Sebagai pengendalian atas dana kas kecil, manajemen memberlakukan kebijakan agar setiap transaksi ditandatangani oleh pihak-pihak yang berwenang seperti bagian keuangan dan General manager. Akan tetapi, agar dana kas dapat terkendali lebih baik dan tidak menambah pekerjaan administrasi petinggi perusahaan, maka perlu manajemen perlu membentuk kebijakan pada otorisasi kas kecil. Misalnya Hanya pengeluaran diatas Rp 1.000.000,- yang membutuhkan persetujuan General manajer, transaksi dibawahnya hanya diotorisasi oleh bagain keuangan.

Memperbesar Nilai Saldo
Persetujuan yang terlalu panjang memang meningkatkan pengendalian harta perusahaan, tetapi juga akan menciptakan masalah baru. Masalah yang sering muncul ialah disaat permintaan kas kecil meningkat. Pengendalian yang terlalu berlebihan dan ketat dapat menyebabkan pembayaran menjadi tertunda. Jika masalah terletak pada jumlah ketersediaan dana pada kas kecil, manajemen dapat meningkatkan saldo kas kecil. tetapi jika masalah pada pertimbangan persetujuan (approval), langakah bijaknya ialah menetapkan kebutuhan approval sesuai dengan besarnya kebutuhan dana.

Nah, itulah tips seputar prosedur pengeluaran kas kecil. Apabila pembaca ingin memahami lebih dalam prosedur pengeluaran kas kecil, membutuhkan konsultasi manajemen, dan membutuhkan Software Accounting pembaca dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 (wa) atau 081-8521172 (Office). Kami siap membantu
Sampai bertemu di pembahasan artikel selanjutnya

Scroll to top
Selamat datang di Groedu software konsultasi
Send via WhatsApp