Kategori: Finance

KOMPONEN DAN LANGKAH-LANGKAH PENGHITUNGAN HPP UNTUK JENIS PERUSAHAN MANUFAKTUR

Harga pokok penjualan (HPP) atau cost of goods sold (COGS) merupakan total dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan secara langsung oleh suatu perusahaan agar bisa menghasilkan barang atau jasa yang siap untuk dijual. Dalam dunia industri manufaktur, harga pokok penjualan atau lebih sering disebut juga dengan harga pokok produksi atau cost of goods manufactured (COGM).

Perhitungan HPP yang dilakukan untuk mengetahui berapa besarnya biaya produksi yang nantinya akan dikeluarkan oleh perusahaan pada saat akan memproduksi barang. Biasanya, perhitungan HPP terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan juga biaya overhead.
Untuk mengetahui bagaimana cara dalam menghitung HPP pada perusahaan manufaktur, maka simak beberapa tips dari implementor software accounting berikut ini.

Komponen-Komponen Penentu HPP (Harga Pokok Penjualan)

Agar bisa menghasilkan perhitungan HPP yang yang tepat dan sesuai, maka Anda perlu mengetahui tiga macam komponen paling dasar yang akan menentukannya. Tiga komponen tersebut adalah:

• Persediaan Bahan Baku Awal.

Persediaan bahan baku awal merupakan persediaan barang yang masih tersedia sejak di awal periode atau tahun buku berjalan. Saldo persediaan bahan baku awal ini hanya bisa diketahui dari neraca saldo periode berjalan, atau neraca awal perusahaan, atau neraca tahun sebelumnya.

• Persediaan Bahan Baku Akhir.

Persediaan bahan baku akhir adalah persediaan barang yang tersedia di akhir periode atau akhir tahun buku berjalan. Saldo persediaan bahan baku akhir biasanya hanya akan dapat dilihat pada laporan penyesuaian pada setiap akhir periode.

• Pembelian Bahan Baku.

Pembelian bahan baku yang meliputi seluruh pembelian bahan baku yang sudah dilakukan oleh perusahaan, baik itu berupa pembelian barang secara tunai maupun yang secara kredit. Hal ini juga sudah termasuk biaya angkut pembelian yang sudah dikurangi dengan potongan pembelian dan pengembalian barang (retur pembelian)
.
Langkah-Langkah Dalam Perhitungan HPP

Metode dalam perhitungan HPP pada jenis perusahaan manufaktur yang sedikit berbeda dengan jenis perusahaan jasa maupun dagang. Berikut ini adalah berupa langkah-langkah untuk menghitungnya:

• Hitung Bahan Baku yang Digunakan.

Karena untuk jenis perusahaan manufaktur yang telah memproduksi sendiri barang-barang dagangannya, maka mereka tetap membutuhkan bahan baku. Bahan baku yang merupakan persyaratan utama dalam menghitung harga pokok penjualan pada saat pertama kalinya.
Produsen juga harus ikut terlibat dalam menentukan berapa banyak bahan baku yang nanti akan digunakan untuk memproduksi suatu barang. Untuk menentukannya, maka produsen harus mengecek berapa banyak bahan baku yang masih tersisa pada akhir periode setelah saldo awal periode yang ditambah dengan pembelian yang ada selama periode tersebut sedang berlangsung.

Berikut ini merupakan metode untuk menghitung semua bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi.

Bahan baku terpakai = saldo awal bahan baku + pembelian bahan baku – saldo akhir bahan baku

• Menghitung Biaya Produksi Lainnya

Selain dengan menghitung bahan baku utama, masih ada biaya lainnya yang mempengaruhi proses produksi barang dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi. Biaya tersebut antara lain adalah:

1. Biaya tenaga kerja langsung.
2. Biaya overhead (biaya bahan baku yang lebih bersifat tidak pokok), misalnya seperti biaya listrik, biaya pemeliharaan, biaya reparasi, dan lain sebagainya.

• Menghitung Berapa Total Dari Seluruh Biaya Produksi.

Total biaya produksi sebenarnya sudah mencakup biaya yang nantinya akan dikeluarkan pada saat barang sudah masuk ke dalam proses produksi dan biaya yang akan dikeluarkan untuk memproduksi barang-barang tersebut. Untuk menentukan total biaya produksi, bahan baku barang yang akan diproses pada setiap awal periode produksi harus ditambah dengan bahan baku tidak pokok (misalnya tenaga kerja langsung dan overhead), lalu dikurangi dengan barang yang masih tersisa di gudang pada setiap akhir periode.

• Menghitung Harga Pokok Penjualan.

Nah, sekarang adalah waktunya bagi kita untuk melakukan perhitungan HPP. Caranya adalah dengan menambahkan barang-barang yang sudah selesai diproduksi di gudang pada setiap awal periode dengan harga produksi periode berjalan, kemudian akan dikurangi dengan barang jadi yang masih tersisa di gudang pada setiap akhir periode.

Berikut ini adalah formulanya:
Harga Pokok Penjualan (HPP) = Saldo awal barang jadi (finished) + produksi selesai periode berjalan – saldo akhir barang jadi
Setelah harga pokok penjualan sudah diketahui, maka Anda dapat menghitung pendapatan kotor dari bisnis Anda. dan hal ini adalah jumlah yang sudah diperoleh oleh bisnis Anda dari penjualan sebelum terjadinya pemotongan pajak dan pengeluaran lainnya.

Menghitung Harga Pokok Penjualan Secara Instan

Melakukan perhitungan HPP secara manual memang cukup merepotkan, karena biasanya harus ada banyak dokumen yang akan dilibatkan ketika Anda sudah mencatat setiap komponennya. Dokumen kertas atau spreadsheet yang terpisah memang sangat rawan untuk hilang. Selain itu, perhitungan HPP manual juga sangat rentan terhadap  human error.

Perhitungan HPP instan hanya dapat dibuat menjadi sangat mudah dengan lebih sederhana dengan bantuan dari penggunaan sistem akuntansi online. Dengan sistem akuntansi yang sudah berbasis cloud, maka Anda akan dapat menghitung HPP secara akurat hanya dalam hitungan detik saja. Seluruh data-data keuangan Anda akan dapat dimonitor kapan saja dan di mana saja melalui satu sistem. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

BUKTI-BUKTI AUDIT (AUDIT EVIDENCE) DAN BEBERAPA PENJELASANNYA

Bukti audit atau yang lebih sering disebut dengan (Audit Evidence) merupakan segala macam bentuk informasi-informasi penting yang dapat digunakan oleh para auditor sebagai dasar acuan dalam memberikan opini mereka. Bukti-bukti audit dapat berbentuk nominal atau berupa pernyataan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertullis atau berupa ucapan lisan yang sudah di konvensi agar menjadi bentuk pernyataan yang tertulis dan lebih relevan dengan penyajian dari laporan keuangan.

Banyaknya jenis-jenis bukti audit yang selama ini sudah digunakan sebagai satu dasar untuk penentuan opini dari tingkat kewajaran laporan keuangan. Keterbatasan dalam hal mengakses terhadap bukti-bukti audit dapat juga mempengaruhi bagaimana opini dari tim auditor dalam memberikan pernyataan dalam laporan keuangan. Semakin banyak bukti-bukti yang telah dikumpulkan, maka akan semakin memperkuat pernyataan atas laporan keuangan yang sudah diterbitkan.

Pengumpulan bukti-bukti audit yang sudah dilakukan sebelum terjadinya pemeriksaan lapangan, lebih tepatnya pada saat terjadi audit plan atau semacam perencanaan audit. Pemilihan bukti-bukti audit juga dapat mempengaruhi waktu terjadinya pemeriksaan, sehingga diharapkan pada saat melakukan perencanaan audit, maka bukti yang akan dapat diperiksa cukup mampu dalam memberikan berbagai informasi-informasi penting dan cukup kompeten.

Bukti bahwa sebenarnya audit juga dapat diperoleh pada saat terjadi pemeriksaan. Misalnya bukti-bukti yang telah diperoleh saat proses pengamatan, inspeksi, pengajuan pertanyaan, dan juga konfirmasi atas kebenaran dari saldo. Dan seandainya masih terdapat adanya sebuah kebijakan perusahaan yang dinilai akan beresiko untuk menyebabkan terjadinya resiko dikemudian hari, maka pihak auditor masih perlu untuk mencatatnya pada laporan manajemen yang kemudian harus meminta bagaimana tanggapan mereka.

Audit merupakan tindakan introgative, yaitu bertujuan untuk memeriksa tingkat kewajaran dari laporan keuangan yang telah disajikan oleh pihak manajemen serta untuk memeriksa bagaimana kepatuhanya terhadap Prinsip-Prinsip Akuntansi yang masih berlaku. Pada kondisi tertentu pihak Auditor berhak untuk tidak memberikan pendapat apapun.

Berikut ini praktisi software accounting akan memberikan beberapa jenis dari bukti-bukti audit beserta dengan penjelasannya.

1. Bukti Fisik.

Merupakan suatu bukti yang sudah diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, misalnya dari hasil pemeriksaan persediaan, pemeriksaan kas, observasi dari aktiva tetap. Bukti-bukti fisik ini memang seharusnya diperoleh dari pemeriksaan dan perhitungan obyek yang sudah memilki bentuk yang nyata.

2. Bukti Konfirmasi.

Adalah bukti yang sudah diperoleh dari berbagai tindakan-tindakan konfirmasi terhadap pihak ketiga. Konfirmasi ini biasanya akan dilakukan untuk menanyakan bagaimana kebenaran dari saldo yang telah disajikan pada laporan keuangan. Oleh karena bukti ini dianggap sebagai salah satu bukti yang jauh lebih handal dari pada bukti-bukti yang sudah diperoleh dari perusahaan, maka pihak yang akan menjadi sasaran dari surat konfirmasi diharapkan akan mampu dalam memberikan pernyataan  yang sebenarnya dan dengan sejujur-jujurnya. Pihak-pihak yang telah dikirimkan surat konfirmasi, baik dari mitra bisnis auditee misalnya suplier, konsumen dengan nilai piutang terbesar maupun dari pihak yang independen misalnya kantor hukum.

3. Proses dokumentasi.

Suatu bukti yang sudah diperoleh dari pemeriksaan catatan transaksi keuangan. Proses seperti ini biasanya lebih sering disebut dengan pemeriksaan kepada bukti transaksi atau lebih dikenal dengan Vouching. Beberapa catatan akuntansi yang lebih sering diperiksa adalah bukti-bukti transaksinya, yaitu:

• Bukti kas masuk dan kas keluar.
• Surat pesanan pembelian.
• Dokumen pengapalan/bill of leading.
• Duplikat faktur penjualan dan lain sebagainya.

4. Observasi.

Suatu tindakan yang sudah dilakukan untuk memperoleh bukti-bukti audit dengan cara menggunakan panca indra. Misalnya memanfaatkan indera penglihatan, indera pendengaran, sentuhan, penciuman. Bukti audit yang dapat diperokeh melalui pengamatan yaitu bukti yang memiliki wujud, bentuk fisik. Bukti audit dari hasil observasi adalah sebagai berikut:

• Hasil pengamatan terhadap berbagai fasilitas-fasilitas yang telah disediakan oleh perusahaan.
• Barang-barang yang sudah tersimpan baik yang masih memang berfungsi maupun yang sudah mendekati akhir dari masa ekonomisya

5. Inquiries.

Bukti-bukti yang berasal dari peryataan atau jawaban atas berbagai pertanyaan-pertanyaan dari pihak auditor yang baik yang sudah berbentuk tulisan maupun yang berupa lisan. Bukti yang berupa lisan dapat diperoleh melalui pertanyaan-pertanyaan dan bukti-bukti tertullis yang hanya dapat diperoleh dari berbagai jawaban atas pertanyaan tertulis. Auditor juga bisa mendapatkan bukti tertulis dari pertanyaan lisan dengan cara menkonversi menjadi pernyataan tertulis kemudian memintanya tanda tangan.

6. Perhitungan.

Suatu bukti yang sudah diperoleh dari beberapa kali pengujian perhitungan kembali. Para auditor dapat memberikan tanda-tanda pada kertas kerja bahwa saldo yang sudah diperiksa perhitungannya telah dilakukan dengan sangat cermat dan tepat. Perhitungan kembali yang harus dilakukan untuk memeriksa tingkat kecermatan perhitungan yang seblumnya telah dilakukan oleh auditee.

7. Reperformance.

Bukti-bukti penting yang sudah diperoleh dari pemeriksaan prosedur kerja yang masih berlaku dan masih bisa dijalankan oleh pihak auditee termasuk juga tentang pengendalian internalnya. Tujuan dari dilakukan reperformance ini adalah untuk menguji sampai seberapa handal informasi-informasi keuangan yang sudah dihasilkan. Analisis otorisasi melalui pemeriksaaan specimen sangat perlu untuk dilakukan agar bisa mengetahui kuat dan efektifnya penerapa dalam hal pengendalian internal perusahaan.

8. Tes analisis.

Suatu bukti yang sudah diperoleh dengan cara membandingkan dari beberapa saldo sampai dengan membentuk sebuah rasio. Tujuan dari dilakukannya analitikal prosedur adalah untuk menilai bagaimana tren, dengan cara membandingkan rasio dari periode yang berjalan dengan rasio periode yang lalu. Selain itu penjelasan atas berbagai tren, baik yang menurun atau yang sudah meningkat dapat digunakan sebagai salah satu dari bukti audit.

Nah, begitu sedikitnya penjelasan tentang bukti-bukti audit. Terima kasih telah berkunjung ke website kami. Apabila para pembaca membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan tentang Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900/081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

PEMERIKSAAN KEUANGAN PERUSAHAAN TENTANG: (RISIKO DARI PIHAK PEMERIKSA DAN YANG MEMBUTUHKAN PEMERIKSAANNYA)

Pada Kesempatan kali ini implementor software accounting akan berbagi informasi tentang pemeriksaan keuangan. Artikel kali ini akan membahas tentang apa yang menjadi kerugian dan bisa berkemungkinan untuk menimpa stake holder terkait dengan laporan keuangannya. Agar dapat meminimalkan begitu besarnya resiko atas laporan keuangan ini, maka dari itu mereka menginginkan agar laporan keuangan yang diperiksa oleh seorang Auditor Independen. Secara garis besar kerugian yang dapat menimpa si pengguna dari laporan keuangan dibagi menjadi dua macam bagian, yaitu: rugi karena telah salah dalam pengambilan keputusan dan rugi karena sudah kehilangan assetnya. Pertama-tama kita akan membahas tentang kesalahan dalam hal pengambilan keputusan.

Kesalahan-kesalahan dalam hal Pengambilan Keputusan

1. Pihak Manajemen.

Laporan keuangan yang telah digunakan sebagai satu dasar acuan dalam hal pembentukan strategi dan keputusan bisnis perusahaan. keputusan yang sebelumnya telah diambil akan menjadi tepat sasaran jika informasi yang telah mendasari dalam hal pembentukan strategi tersebut bersifat lebih obyektif, dapat diandalkan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kompensasi yang nanti akan didapatkan oleh manajer dapat disesuaikann dengan kinerja dari manajemen. Jika pihak manejemen mampu mencatatkan keuntungan dan mampu mencapai target seperti yang telah diharapkan, maka manajer akan bisa mendapatkan kompensasi yang sesuai dengan kontrak. Hal ini akan menciptakan potensi dan resiko bagi si pengguna laporan keuangan, terlebih lagi jika yang men set kebijakan atas pelaporan keuangan tersebut adalah seseorang yang selalu lebih terobsesi untuk mengejar bonus dan kompensasi.

2. Para Investor.

Para Investor akan memanfaatkan informasi yang telah tersaji di dalam laporan keuangan sebagai satu dasar untuk melakukan investasi. Salah satu cara terbaik dalam melakukan evalusai darilaporan keuangan dengan cara membandingkan satu atau beberapa akun dengan akun lainnya yang lebih sering dikenal dengan sebutan analisis rasio. Yang perlu untuk lebih ditekakan lagi adalah bahwa hasil dari analisis rasio yang lebih valid dan dapat dipercaya jika data-data yang telah membentuk laporan keuangan tersebut juga adalah laporan yang valid dan dapat dipercaya.

3. Pihak Pemerintah.

Salah satu pihak yang memang mewakili permintah atas laporan keuangan auditan adalah dari Ditjen Pajak (DJP). Pihak pemerintah yang telah menetapkan kewajiban perpajakan berdasarkan dari angka-angka laporan keuangan. Penetapan kewajiban perpajakan akan salah jika laporan keuangan tersebut tidak mencerminkan bagaimana kondisi yang sebenarnya.

4. Pihak Keditur.

Pihak Kreditur memilki kepentingan yang sama dalam informasi laporan keuangan. Sebelum mendapatkan dana pinjaman, maka calon pihak debitur akan dianalisis bagaimana kemampuannya dalam melunasi pinjaman pokok dan juga bungannya dari kinerja keuangannya. Jika laporan keuangan yang merupakan cerminan dari kinerja keuangan tidak mampu menggambarkan bagaimana keadaan yang sebenarnya, maka resiko yang mungkin saja akan dihadapi oleh pihak kreditur tersebut adalah tidak mampunya untuk mendapatkan dananya kembali.

Terjadinya kesalahan karena menyebabkan asset telah hilang.

Tahapan selanjutnya setelah salah dalam pengambilan keputusan yaitu kehilangan assetnya. Kesalahan dalam mengambil keputusan merupakan salah satu bentuk penggunaan asset yang tidak tepat (Missappropriation of asset).

Pihak pihak yang seringkali meminta dilakukannya pemeriksaan laporan keuangan adalah:

1. Korporasi Auditee.

Perusahaan yang paling sering menggunakan jasa dari para auditor adalah perusahaan go publik, perusahaan yang sudah tercatat pada bursa saham. Tujuannya adalah untuk memberikan keyakinan kepada pihak eksternal tentang sampai sejauh mana perusahaan telah mematuhi standar akuntansi keuangan PSAK, Perpajakan, Bapepam dan juga peraturan-peraturan lainnya.

Tidak ada satu perusahaanpun yang menyajikan laporan keuangan dengan semampunya dan akan menerima apapun kondisi yang sudah ada. Mereka pastinya akan selalu menginginkan agar laporan keuangannya dapat dinilai dengan opini yang wajar tanpa adanya pengeualian satupun. Selain itu tidak ada satupun perusahaan yang rela nilai sahamnya menjadi semakin turun seiring dengan penurunan opini atas hasil audit dari laporan keuangannya. Meskipun setiap pemeriksaan akan selalu diawali dengan surat perikatan dan opini dari laporan keuangan juga harus bersifat obyektif.

Disisi lain Kantor Akuntan Publik (KAP) akan dihadapkan pada persaiangan dalam mendapatkan klien. Seandainya si Auditor memberikan opini diluar harapan si auditee, maka akan ada resiko bahwa klien tersebut akan lebih memilih Kantor Akuntan Publik lain. KAP yang bukan yayasan, dan bukan NGO yang operasionalnya masih digerakan oleh donatur. Akan tetapi KAP hampir lebih mirip dengan perusahaan lainnya profit oriented, meski ada aturan-aturan yang terkait dengan etika.

Mencermati berbagai permasalahan auditee yang akan selalu berharap dari adanya opini yang wajar tanpa pegecualian dan KAP juga masih tetap membutuhkan profit untuk operasionalnya, maka perlu dilakukan sebuah tread off dimana dapat mempertahankan klien dengan tidak melanggar norma-norma etikanya.

2. Para pemegang saham.

Para pemegang saham yang sangat ingin mengetahui telah seberapa jauh kinerja pihak manajemen. Salah satu alasan mengapa pemegang saham ingin agar laporan keuangan diperiksa adalah karena mereka telah mencurigai sudah dilakukan tindakan kecurangan. Kecurangan-kecurangan yang sudah dilakukan oleh manajemen dimotivasi oleh besarnya nilai kompensasai atas laba yang sudah dihasilkan.

Sejauh ini tidak ada publikasi atas laporan keuangan dengan sebuah opini yang tidak wajar. Seandainya terdapat permasalahan di dalam perusahaan, kebijakan yang paling mentok yaitu adanya pergantian direksi dan tidak mungkin akan sampai pada publikasi dari laporan keuangan. Karena hal itu sama saja dengan melalkukan tindakan bunuh diri.

Selain itu kasus-kasus seputar kecurangan-kecurangan yang telah diungkapkan kepada publik sebenarnya adalah merupakan tindakan dan akibatnya sudah sangat lama.  Jarang sekali terjadi kehebohan setelah proses audit selesai dilakukan. Kebanyakan kasus akan mulai muncul ke permukaan terlebih dahulu setelah dilakukannya tindakan audit.

Terima kasih telah berkunjung ke website kami, itulah sedikit penjelasan tentang beberapa kendala dalam menyimpan pemeriksaan keuangan. Jika para pembaca sekalian ingin memahami secara lebih mendalam tentang artikel ini, dan juga membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900/081-8521172 (Office). Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel selanjutnya.

PENJELASAN SINGKAT TENTANG PENGERTIAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKUNTANSI KOMERSIAL (KEUANGAN) DAN AKUNTANSI PERPAJAKAN

Mungkin diantara beberapa akuntan sudah sangat paham jika mendengar adanya istilah akuntansi dan juga akuntansi perpajakan. Kedua istilah tersebut memang lebih sering didengar oleh para praktisi akuntansi dan pajak. Namun, apakah Anda sudah mengetahui dengan pasti bagaimana hubungan diantara keduanya? Sebagian orang akan menganggap bahwa akuntansi hanya seputar proses hitung menghitung laba dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses perpajakan, karena akuntansi perpajakan hanya berkaitan dengan urusan pajak pemerintah saja. Padahal sebenarnya akuntansi juga memiliki hubungan yang erat dengan akuntansi perpajakan. Agar Anda tidak sampai memahami hubungan antara akuntansi dengan akuntansi perpajakan, maka simaklah beberapa ulasan dari praktisi software akuntansi berikut ini.

Pengertian Antara Akuntansi dan Akuntansi Perpajakan

Sebelum akan membahas tentang hubungan antara akuntansi dan akuntansi perpajakan, maka ada baiknya bagi Anda untuk mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian dan atau hal-hal lainnya dari keduanya. Akuntansi merupakan suatu proses dalam mengidentifikasi, mencatat, dan juga mengklasifikasikan, mengolah, serta menyajikan transaksi-transaksi atau berupa aktivitas-aktivitas keuangan terhadap para pihak yang memang berkepentingan. Akuntansi komersial atau yang disebut dengan akuntansi keuangan merupakan proses penyusunan laporan keuangan yang sudah sesuai dengan peraturan dari standar akuntansi keuangan. Sedangkan, untuk akuntansi perpajakan, yaitu proses untuk penyusunan laporan keuangan yang benar-benar sesuai dengan peraturan undang-undang perpajakan. Sehingga untuk laporan keuangan yang sudah dihasilkan disebut sebagai laporan keuangan fiskal.

Persamaan Akuntansi Komersial dan Akuntansi Pajak

Karena berdasarkan prinsip akuntansi, maka akuntansi komersial dan akuntansi pajak memang memiliki persamaan dan perbedaan. Nah, persamaan antara akuntansi komersial dan akuntansi perpajakan:

1. Karakteristik yang Lebih Kualitatif.

Persamaan pertama antara akuntansi umum dan akuntansi perpajakan, yaitu adanya hubungan dengan karakteristik kualitatifnya. Karakteristik kualitatif antara akuntansi pepajakan dan komersial, yaitu meliputi:

• Relevansi, adapun persyaratan informasi keuangan yang lebih relevan antara lain: Memiliki umpan balik (feedback value), memiliki manfaat yang lebih prediktif (predictive value), tepat waktu dan cukup lengkap.
• Handal, jika informasi: Disajikan secara jujur, dapat diverifikasi, dan juga netral.
• Dapat dibandingkan, informasi padat yang dibandingkan antar periode atau antar masing-masing entitas.
• Dapat lebih dipahami, informasi dapat dengan mudah mampu dimengerti oleh pada penggunanya.

2. Penggunaan Sistem Akrual Basic.

Pada akuntansi komersial, standar akuntansi seperti yang selama ini banyak digunakan, yaitu dengan menggunakan sistem akrual basic. Sama halnya dengan jenis akuntansi komersial, akuntansi perpajakan juga menerapkan sistem akrual. Namun pada akuntansi perpajakan diperbolehkan untuk menggunakan sistem campuran (kas dan akrual), akan tetapi dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang masih berlaku seperti halnya pada pasal 28 UU KUP.

3. Persamaan Neraca.

Laporan keuangan neraca pada akuntansi komersil dan juga akuntansi perpajakan yang sama, yaitu: terdiri dari asset, hutang dan juga modal.

4. Konsep Kesatuan Jenis Pada Bidang Usaha.

Persamaan lainnya adalah dalam hal prinsip-prinsip kesatuan usaha. Akuntansi fiskal dan juga komersial, keduanya menganut prinsip kesatuan usaha yang sama, yaitu berarti adanya pemisahan antara harta atau asset dari pihak pemilik dan juga perusahaan.

5. Prinsip-Prinsip Realisasi.

Selain berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip kesatuan usaha, persamaan lainnya adalah berupa prinsip realisasi. Kedua jenis akuntansi tersebut (akuntansi komersil dan perpajakan), memang sama-sama menerapkan prinsip realisasi, dan juga lain sebagainya.

Nah, itulah penjelasan singkat tentang pengertian dan persamaan antara akuntansi komersial (keuangan) dan akuntansi perpajakan. Untuk penjelasan lanjutan tentang apa saja perbedaan dari keduanya akan dilanjutkan pada artikel selanjutnya. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

Scroll to top