Kategori: Informasi Teknologi

TAHUKAH ANDA TENTANG PERBEDAAN ANTARA TRANSAKSI DAN TRANSAKSI AKUNTANSI

Apabila membahas tentang transaksi, satu hal yang pastinya akan muncul pada pemikiran kita adalah hal-hal yang berhubungan tentang transaksi jual-beli maupun serah terima. Ya, memang isitilah transaksi erat kaitannya dengan dua aktivitas tersebut. Dalam melaksanakan aktivitas transaksi, dibutuhkan setidaknya dua pihak yang saling membutuhkan satu sama lain. Aktivitas transaksi biasanya juga melibatkan sebuah produk atau berbagai macam hal lain yang dimiliki oleh salah satu pihak dan dibutuhkan oleh pihak lainnya. Setiap individu pada dasarnya akan selalu melakukan aktivitas transaksi hampir setiap hari, baik itu adalah berupa transaksi jual beli, transaksi kekuasaan, transaksi perbankan, dan berbagai macam jenis transaksi lainnya.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan transaksi itu? Transaksi adalah aktivitas yang terjadi diantara kedua lebih pihak atau lebih yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan terhadap posisi keuangan dan kepemilikan kekayaan diantara kedua pihak tersebut. Transaksi biasanya berhubungan dengan urusan keuangan dan juga kepemilikan produk, baik itu dalam bentuk barang maupun jasa. Transaksi juga dapat dilakukan baik oleh perorangan maupun oleh organisasi besar seperti perusahaan. Dan transaksi juga dapat berlangsung antara pihak internal perusahaan atau antar perusahaan dengan pihak luar perusahaan atau dengan perorangan.

Bagaimana dengan jenis-jenis transaksi? Transaksi terbagi menjadi dua macam jenis, yaitu:

1. Transaksi internal.

Yaitu transaksi yang terjadi pada lingkungan internal suatu perusahaan saja. Transaksi internal hanya melibatkan pihak-pihak yang berada dalam perusahaan tanpa melibatkan pihak-pihak dari luar perusahaan. Seperti contoh transaksi internal yaitu: pembayaran gaji kepada karyawan dan pengalokasian beban perusahaan.

2. Transaksi eksternal.

Yaitu transaksi yang terjadi diantara pihak internal dengan phak eksternal perusahaan. Berbeda dengan transaksi internal yang tidak membutuhkan adanya keterlibatan dari pihak eksternal sama sekali, transaksi eksternal malah justru membutuhkan adanya keterlibatan pihak eksternal perusahaan sebagai mitra transaksinya. Contoh dari transaksi eksternal yaitu: pembelian bahan baku, penjualan produk perusahaan, serta pembayaran hutang usaha.

Setiap transaksi yang dilakukan dalam perusahaan biasanya disertai dengan adanya bukti-bukti transaksi. Lalu apakah bukti transaksi itu? Bukti transaksi adalah berupa dokumen pendukung yang berisi tentang data transaksi yang dibuat setelah melakukan transaksi untuk kebutuhan pencatatan keuangan bisnis. Bukti transaksi tersebut dalam perusahaan biasanya akan dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:

1. Bukti transaksi internal.
Yaitu bukti pencatatan dari kejadian setiap transaksi yang terjadi antara bagian dalam internal perusahaan. Bukti transaksi internal biasanya berupa memo atau berkas laporan serah terima bagian.

2. Bukti transaksi eksternal.

Yaitu bukti transaksi yang terjadi diantara pihak internal dengan pihak eksternal perusahaan. Berbeda dengan bukti transaksi internal yang lebih cenderung sangat terbatas bentuknya, bukti transaksi eksternal cenderung jauh lebih banyak bentuknya, biasanya adalah berbentuk nota, faktur, kwitansi, dan lain sebagainya.

Lalu Apa Perbedaan Antara Transaksi Dengan Transaksi Akuntansi?

Perbedaan dari transaksi apabila dibandingkan dengan transaksi akuntansi adalah bahwa transaksi akuntansi harus berpengaruh kepada persamaan akuntansi. Ketika sebuah transaksi akuntansi terjadi, maka transaksi ini akan menjadi penyebab utama dilakukannya pencatatan akuntansi. Dengan kata lain, pencatatan akuntansi hanya dapat dilakukan dengan syarat jika dan hanya jika terdapat transaksi akuntansi yang terjadi pada sebuah perusahaan. Transaksi akuntansi selalu memiliki dampak pada keuangan bisnis, oleh karena itu pastinya harus bisa diukur atau dinyatakan nilainya dalam bentuk uang. Karena nilai tersebut bisa diukur dengan uang, maka transaksi akuntansi bisa juga disebut dengan transaksi keuangan bisnis.

Transaksi akuntansi adalah berupa kesepakatan atau perjanjian yang sudah terjalin antara dua pihak, yang mana pihak pertama berlaku sebagai penjual barang atau jasa, sedangkan pihak kedua berlaku sebagai pembeli barang atau jasa. Syarat dari terjadinya transaksi akuntansi adalah transaksi tersebut harus berdampak pada keuangan, baik di waktu sekarang maupun di waktu yang akan datang. Sebagai contoh, Perusahaan A mengadakan rapat dewan direksi dan memutuskan untuk membuka kantor cabang di Kota Jakarta. Satu bulan kemudian Perusahaan A membeli sebuah ruko di Jakarta dan baru siap untuk ditempati dalam waktu satu bulan berikutnya. Maka dalam contoh kasus tersebut, Perusahaan A sedang menjalankan sebuah transaksi akuntansi, dimana disaat Perusahaan A memutuskan untuk membeli sebuah ruko, maka akan terdapat transaksi yang terjadi diantara Perusahaan A dengan pihak pemilik ruko. Dampak keuangan bagi Perusahaan A saat ini adalah telah memliki sebuah asset berupa ruko di Jakarta.

Sedangkan dampak keuangan yang terjadi di waktu yang akan datang adalah ketika ruko tersebut sudah dapat ditempati, maka manfaat dari ruko tersebut sudah dapat dinikmati oleh Perusahaan A. Dengan menggunakan software accounting, maka Perusahaan A sudah dapat melakukan perhitungan tentang berapa penurunan nilai bangunan dari ruko tersebut untuk setiap tahunnya apabila dibandingkan dengan umur manfaat bangunan dari ruko tersebut.

Nah, sekarang pastinya Anda sudah tahu bukan tentang perbedaan antara transaksi dan transaksi akuntansi. Semoga bisa bermanfaat dan salam sukses.

Apabila membutuhkan software accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

CARA-CARA TERBAIK UNTUK RETENSI (USAHA MEMPERTAHANKAN) KARYAWAN BAGI PERUSAHAAN ANDA

Seperti apa cara untuk meretensi karyawan yang paling jitu bagi perusahaan? Resign-nya salah satu karyawan terbaik milik perusahaan merupakan mimpi terburuk bagi para pelaku bisnis. Tidak hanya harus segera mencari penggantinya saja, namun Anda juga harus mempertimbangkan tentang dampaknya terhadap karyawan-karyawan lain. Jangan sampai hal itu juga malah memancing mereka untuk juga ikut-ikutan resign. Itulah mengapa setiap perusahaan sebaiknya wajib memikirkan tentang retensi karyawan. Pada dasarnya, hal itu memang lebih mengacu kepada bagaimana cara yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan para karyawannya. Apa saja cara-cara tersebut?

Berikut Adalah Beberapa Cara Dalam Proses Retensi Karyawan Yang Mungkin Dapat Anda Lakukan Pada Perusahaan Milik Anda

Sangat penting artinya bagi seorang HR untuk mengetahui bagaimana caranya untuk meretensi karyawan terbaik pada Perusahaannya.

1. Anda Jangan Hanya Bertindak Sebagai Seorang Motivator Saja.

Sebagai bentuk penghargaan karena loyalitas dari karyawan yang telah lama bekerja dan mampu bekerja sesuai dengan target dari perusahaan, maka Andapun jangan lantas merasa tenang-tenang saja, bisa jadi mereka malah merasa tidak dihargai oleh perusahaan Anda dan malah akan merencanakan untuk resign. Karenanya cegah hal itu jangan sampai terjadi dengan memberinya berbagai macam penghargaan yang berupa bonus, kendaraan dinas, cuti, dan banyak lagi hal-hal lain yang bermanfaat bagi karyawan Anda. Meskipun terkesan banyak, namun hal itu sebenarnya hanya setengah dari keseluruhan upaya dalam mempertahankan karyawan Anda. Tanpa Anda sadari, jangan sampai Anda membuat kesalahan yang fatal terhadap karyawan. Mayoritas pemimpin perusahaan biasanya terlalu fokus untuk memotivasi karyawan mereka agar bekerja dengan lebih giat lagi, yang sayangnya tidak diikuti dengan upaya maksimal dalam mengetahui penyebab utama mengapa karyawannya seringkali menemukan kesulitan-kesulitan dalam melakukan segala sesuatunya. Ini adalah cara retensi karyawan pertama yang harus Anda lakukan.

2. Memberikan Pelatihan Untuk “Meninggalkan Perusahaan”.

Melihat judulnya saja, mungkin Andan akan bertanya-tanya, “Bagaimana bisa retensi karyawan akan semakin meningkat jika harus dilatih untuk “meninggalkan perusahaan?” Anda bisa mencontoh strategi yang dilakukan oleh My Maid Service. Sebagai sebuah “hadiah” karena para karyawan baru bersedia untuk terikat kontrak kerja selama dua tahun, My Maid Service telah memberikan training dan berusaha untuk mendaftarkan karyawan dari kelas-kelas community college yang sesuai dengan minat serta passion mereka masing-masing. My Maid Service juga akan memberikan mereka tugas yang berdasarkan dari kedua hal tersebut. Misalnya saja, apabila seorang karyawan memiliki passion dalam marketing, maka My Maid Service akan menawarkan tugas untuk menciptakan kampanye tertentu. Hasilnya, tingkat turnover perusahaan malah menjadi 0% dari yang semula adalah 300%! Cara retensi karyawan yang benar-benar luar biasa bukan?

3. Memanfaatkan Distraksi dari Internet Jika Memang Diperlukan.

Sebagai seorang atasan, tentunya Anda tidak ingin karyawan harus menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengerjakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan kepentingan perusahaan, akan tetapi tidakkah Anda ingin agar mereka menggunakan sebagian besar dari waktu pribadinya untuk meningkatkan bisnis mereka? Beberapa dari karyawan suatu divisi mungkin akan lebih suka untuk bekerja dari rumah selama satu hingga dua hari agar bisa lebih fokus tanpa adanya celah distraksi. Coba biarkan saja hal itu terjadi. Terlebih lagi, sekarang sudah ada berbagai macam jenis perangkat online yang semakin memudahkan proses kerja meskipun karyawan tidak saling bertatap muka secara. Tentu saja kuncinya hanya terletak pada kepercayaan, baik itu adalah terhadap karyawan, tim, proses kerja, sampai dengan brand yang telah Anda bangun.

4. Meningkatkan Akses dalam Perusahaan.

Akses yang ternyata memiliki peranan terpenting sebagai salah satu cara untuk meretensi karyawan pada perusahaan. Setiap perusahaan pastinya memiliki hirarkinya sendiri untuk menentukan struktur organisasi. Pada satu sisi, hal ini memang dapat memenuhi berbagi kebutuhan-kebutuhan tertentu dari perusahaan. Namun, di sisi lainnya, biasanya justru akan bisa menyebabkan terjadinya gap di antara para karyawan level junior dan para eksekutifnya. Agar hal tersebut tidak sampai terjadi, maka tingkat transparansi dan akses memadai tentunya sangat dibutuhkan demi semakin terciptanya kepercayaan dan loyalitas dari mereka.

Misalnya, Anda bisa sejenak meluangkan waktu khusus untuk mengadakan sesi mentoring antara karyawan dari level junior dan para eksekutifnya. Sebagai contoh lain, perusahaan SoundCloud telah membiarkan para karyawannya untuk mengikuti rapat level eksekutif, namun sebagai gantinya, mereka harus menulis postingan blog tentang hasil dari rapat untuk kemudian dibagikan kepada para tim internal perusahaan.

5. Memancing Rasa Penasaran Para Karyawan

Pada saat dilanda rasa penasaran, maka Anda pastinya akan melakukan berbagai macam cara untuk memuaskannya, bukan? Begitu pula dengan karyawan Anda. Ciptakanlah sebuah atmosfer di mana para karyawan akan merasa terpancing untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan mereka ingin belajar dan terus berkembang. Tentu pastikan pula Anda juga sudah menyiapkan jawaban-jawaban yang dapat menjawab pertanyaan dan memuaskan rasa ingin tahu mereka. Namun, jangan hanya menceritakan tentang kesuksesan saja. Tunjukkan juga bahwa Andapun pernah melakukan kesalahan, namun justru malah karena kesalahan tersebut lah, maka Anda mampu dalam mengambil pelajaran yang membawa Anda bisa sampai ke posisi seperti sekarang.

Semoga cara-cara di atas akan dapat membantu Anda untuk meningkatkan retensi karyawan terbaik di perusahaan Anda. Ingatlah bahwa karyawan merupakan asset paling berharga yang pernah dimiliki oleh perusahaan. Tanpa adanya ide dan kerja keras yang mereka berikan, maka nasib perusahaan akan bisa terombang-ambing. Agar bisa lebih focus untuk melakukannya, maka gunakanlah software HR dan payroll agar segala pekerjaan administrasi yang berhubungan langsung dengan HR bisa serba terotomatisasi.

Apabila membutuhkan software HRD, Payroll dan Accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

MENGENAL AKTIVITAS OPERASIONAL PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN MENGELOLA KEUANGANNYA DENGAN SOFTWARE AKUNTANSI

Pengertian pengelolaan keuangan adalah berupa penggunaan sumber daya yang diterima dan yang dipergunakan untuk penyelenggaraan pengelolaan terhadap fungsi keuangan. Dalam hubunganya dengan keuangan perkebunan kelapa sawit, pengelolaan keuangan sangat penting untuk menjalankan fungsi keuangannya. Sebelum kita lanjutkan kepada inti dari pokok pembahasan, maka berikut ini terlebih dahulu akan sedikit kita ulas tentang karakteristik dari jenis usaha perkebunan kelapa sawit.

Industri kelapa sawit memiliki karakteristik yang sedikit lebih khusus yang membedakannya dengan jenis-jenis usaha bidang lainnya seperti: jenis usaha dagang, industry manufaktur dan jasa, yang meliputi proses aktivitas pengelolaan tanaman yang menghasilkan produk yang bisa dikonsumsi dan selanjutnya akan diproses lebih lanjut agar dapat menghasilkan produk lainnya.

Aktivitas-aktivitas operasional dari jenis industri perkebunan kelapa sawit pada umumnya dapat digolongkan menjadi:

1. Masa awal yaitu pembibitan dan penanaman bibit muda, yang merupakan proses pengelolaan bibit tanaman untuk cikal bakal ditanam kembali dan akan dilanjutkan dengan proses penanaman.
2. Pemeliharaan dan pemupukan tanaman, merupakan proses pemeliharaan tanaman agar dapat melalui proses pertumbuhan dan pemupukan sampai dapat menghasilkan produk.
3. Hasil dari produk, proses pemanenan atas produk yang sudah siap di olah dan di jual atau dibibitkan kembali.
4. Pengemasan dan pemasaran, merupakan proses akhir dari penjualan produk kelapa sawit.

Mengelola keuangan dari perkebunan kelapa sawit biasanya berhubungan dengan anggaran dan pencatatan transaksi harian yang berhubungan dengan ke 4 aktivitas operasional diatas sampai pada penyajian laporan keuangan. Dalam pembuatan laporan keuangan memang dibutuhkan adanya system akuntansi yang terbaik sehingga akan menghasilkan laporan keuangan yang lebih CEPAT dan AKURAT untuk dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen dalam pengambilan keputusan selanjutnya. Penggunaan software akuntansi akan dapat digunakan untuk jenis usaha perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan adanya pembukuan yang sudah harus terintegrasi dengan berbagai aktivitas pencatatan mulai dari:

1. Penganggaran biaya operasional.
2. Pencatatan transaksi atas biaya dalam proses Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
3. Pencatatan transaksi atas biaya dalam proses Tandan Buah Segar (TBS).
4. Pencatatan transaksi dan pengelolaan stok atas pemakaian stok, baik itu adalah berupa stok pendukung seperti obat-obatan, pupuk maupun stok dari hasil kelapa sawitnya.
5. Pencatatan terhadap penjualan, pembelian, kontrol terhadap piutang dan hutang.
6. Pencatatan dari operasional Kas dan Bank nya.

Proses penginputan yang lebih praktis, mudah, dan cepat akan mampu menghasilkan laporan keuangan hanya dalam hitungan detik saja.

Manfaat terpenting dalam penggunaan software akuntansi untuk jenis usaha kelapa sawit di antaranya adalah:

1. Kemudahan dalam hal mengontrol biaya-biaya per area kelapa sawit, baik itu adalah atas biaya operasional maupun biaya pemakaian atau penggunaan dari suku cadang serta stok pendukung lainnya.
2. Mengontrol biaya dalam proses mulai dari biaya pembibitan, penanaman, pemeliharaan sampai dapat menghasilkan produk kelapa sawit.
3. Kemudahan dalam hal mengontrol persediaan , baik itu adalah persediaan suku cadang, bibit dan hasil produk kelapa sawit.
4. Mendapatkan informasi dari laporan anggaran realisasi dan laporan laba rugi per pekerjaan dan per departemennya.

Nah, itulah pembahasan tentang mengenal siklus aktivitas operasional dari perkebunan kelapa sawit dan manfaat menggunakan software akuntansi untuk mengelola keuangannya, semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian dan terimakasih. Salam sukses.

Apabila membutuhkan software accounting, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu Anda!

 

DUNIA PERINDUSTRIAN LOGISTIK, SELAMAT DATANG PADA KONSEP ERA LOGISTIK SHARING ECONOMIC

Baru-baru ini konsep sharing economic sudah mulai banyak dibahas dimana-mana. Konsep dari sharing economic yang dimaksudkan disini adalah berupa sebuah keadaan di mana para pelaku ekonomi akan membagikan alat ekonomi mereka agar bisa digunakan secara bersama-sama. Tentu saja masih terdapat catatan penting tentang bagaimana kondisi pada saat alat ekonomi tersebut dapat digunakan secara bersama-sama.

Kondisi tersebut memang lebih menekankan tentang optimalisasi dari alat ekonomi, terutamanya adalah pada titik krusial yang mana alat ekonomi tersebut berada pada masa idle (menganggur) atau tidak digunakan. Namun tentu saja akan lain ceritanya apabila alat ekonomi tersebut menjadi sebuah asset yang memang dengan disengaja agar bisa dipinjamkan untuk mendapatkan penghasilan dari hasil sewa tersebut.

Dalam konteks seputar dunia logistik, perusahaan-perusahaan penyedia logistik sendiri dibedakan berdasarkan kepemilikan assetnya masing-masing. Dana dalam dunia logistik lebih sering kita kenal dengan beberapa sebutan berikut ini, yaitu:

1PL.
2PL.
3PL.
4PL.
5PL.

Untuk membedakan sebuah perusahaan penyedia jasa logistik berdasarkan kepemilikan assetnya. Akan tetapi, konsep dari sharing economic ini sebenarnya tidak sekedar berbicara tentang sewa-menyewa asset antar sesama perusahaan penyedia jasa logistik saja, namun lebih kepada tentang bagaimana dalam melakukan optimasi pada penggunaan asset yang masih dimiliki namun dalam masa idle (menganggur) tersebut.

Selamat Datang Pada Era Logistics Sharing Economic

Bekerja dalam lingkup perusahaan penyedia jasa logistik, pastinya kita pernah merasakan masa di mana kita harus menghadapi permasalahan space pada warehouse kita yang tidak terpakai. Atau bagi pemilik moda transportasi terdapat masa dimana kita tidak dapat memenuhi kapasitas muatan. Selama masa tersebut kita akan menghitungnya sebagai masa idle (menganggur), dan terkadang kita akan memasukkannya sebagai biaya dan akan menghitungnya secara keseluruhan agar biaya tersebut mampu tertutupi dengan memasukkannya ke dalam beban sewa terhadap para pengguna lainnya. Begitu pula yang akan terjadi dengan kapasitas muatan yang tidak mampu terpenuhi.

Sementara pada sisi lainnya, terdapat beberapa perusahaan logistik lain yang berusaha untuk tetap mencari space agar bisa menempatkan barang-barangnya, namun masih tetap mengalami kesulitan untuk bisa mendapatkan warehouse dikarenakan masa sewa yang tidak lama atau karena hanya masih membutuhkan space yang lebih kecil saja. Begitu pula dengan terdapatnya perusahaan lain yang harus membayar dengan harga yang jauh lebih mahal dari yang semestinya, karena hanya membutuhkan jasa pengiriman barang dengan muatan yang lebih kecil.

Belum lagi jika kita berbicara tentang kelebihan dan kekurangan dari tenaga kerja yang dibutuhkan di gudang, permasalahan sulitnya untuk mencari jasa supir harian, kesulitan mencari kernet part time, serta hal-hal sepele namun urgent lainnya yang menjadi kebutuhan sebagai tools penting di gudang, adanya forklift yang tidak terpakai selama berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun, palet yang terus menumpuk tidak terpakai, sementara di tempat-tempat logistik lain malah sebaliknya, berusaha mati-matian untuk mencari palet dengan harga yang relatif lebih murah atau mencari persewaan palet dengan harga yang terlalu tinggi, karena hanya meminjam dalam waktu yang sebentar saja.

Lalu Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Kedua sisi yang tidak seimbang tersebut memang benar-benar nyata adanya di Indonesia. Akan tetapi, apakah tidak ada solusi lain yang lebih tepat untuk hal seperti ini? Maka sharing economic lah jawabannya.

Solusi untuk mengatasi semua permasalahan tersebut adalah dengan membagi asset yang tidak terpakai agar bisa digunakan secara bersama-sama. Lalu bagaimana caranya? Tentu saja dengan melakukan penerapan teknologi informasi.

Baru-baru ini, sharing economic menjadi semakin terkenal sejak diterapkannya teknologi informasi pada pemanfaatan asset-asset yang idle. Dan salah satu contohnya adalah dari aplikasi Uber (aplikasi ojek dan driver online) yang lebih banyak untuk memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki mobil untuk memanfaatkan asset mobilnya agar bisa mendapatkan penghasilan. Caranya adalah dengan berbagi, bahwa asset mobilnya dapat disewakan melalui aplikasi Uber (perantara aplikasi Uber). Untuk orang yang membutuhkan berpergian dengan mobil namun tidak memiliki mobil atau bisa juga karena terlalu malas untuk membawa mobil sendiri dengan berbagai alasan, maka solusinya adalah bisa dengan memanfaatkan jasa aplikasi Uber untuk mencari mobil-mobil dan driver yang tersedia dan bersedia untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan masing-masing.

Begitu pula apabila system dari sharing economic diterapkan pada ruang lingkup perusahaan penyedia jasa logistik. Kita akan bisa mendaftarkan asset-asset logistik yang kita miliki dan tidak terpakai lalu membagikan informasinya terhadap perusahaan logistik lain. Tentu saja hal ini masih tetap membutuhkan adanya bantuan dari teknologi informasi yang berupa sebuah aplikasi yang dapat melakukan pencatatan dengan baik. Aplikasi pencatat seperti ini tentunya harus memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Menjadwalkan pemakaian asset tersebut.
2. Mengetahui informasi berapa lama masa idle dari asset tersebut.
3. Membagikan informasi tentang asset yang idle dengan meliputi informasi kuantitas/kualitas, lokasi, lama idle dan lain sebagainya.

Dari aplikasi tersebutlah, maka kita akan bisa mengetahui asset-asset logistik mana sajakah yang berada pada masa idle dan masih dapat kita pinjamkan (pakaikan) kepada perusahaan logistik lain.

Terdapat empat macam hal yang akan didapatkan apabila konsep dari sharing economic ini dapat berjalan, yaitu:

1. Optimalisasi produktifitas dari asset, sehingga harga sewa menjadi lebih murah.
2. Efisiensi biaya karena mendapatkan harga sewa yang jauh lebih murah.
3. Mendapatkan ketersediaan kebutuhan dan sarana pendukung bagi operasional logistik dengan sangat mudah.
4. Bisnis dapat berjalan dengan lancar.

Jadi intinya adalah logistics sharing economic cepat atau lambat akan segera menjadi sebuah tren dalam beberapa tahun ke depan. Persaingannya juga sudah bukan pada kemampuan untuk memiliki asset sebanyak mungkin saja, namun tentang bagaimana dalam melakukan optimalisasi terhadap asset serta kemampuannya dalam memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan. Itulah sedikit pembahasan tentang konsep Logistic Sharing Economic. Semoga bisa bermanfaat dalam menambah wawasan Anda sekalin seputar dunia perindustrian logistik. Terimakasih dan salam sukses.

Scroll to top