Tag: Impelementor software accounting Balik papan

PERBEDAAN DAN UNSUR-UNSUR ARUS KAS METODE LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

Laporan dari arus kas yang menggunakan metode secara langsung merupakan metode berupa pembuatan Laporan Arus Kas yang mana berbagai informasi seputar arus kas aktual (basic kas), alih-alih jika informasi akrual dari komponen arus kas aktivitas operasional perusahaan yang selama ini sudah banyak digunakan.

Laporan dari arus kas yang sebelumnya telah disajikan dengan menggunakan metode langsung sangat mudah untuk bisa dibaca, karena laporannya juga telah mencantumkan semua penerimaan dan pembayaran kas terhadap objek-objek tertentu selama masa periode berjalan. Dengan kata lain, laporan dari arus kas yang menggunakan metode langsung akan mencantumkan dari dan kepada siapa saja arus kas tersebut akan masuk dan keluar berasal.

Setelah semua sumber-sumber dari arus kas tersebut sudah tercatat, maka total pembayarannyalah yang kemudian akan dikurangkan dari penerimaan kas dan untuk menghitung arus kas bersih dari berbagai macam aktivitas-aktivitas operasional. Kemudian total dari seluruh nilai bersih dari arus kas dari kegiatan investasi dan pendanaan juga bisa diitambahkan untuk mendapatkan nilai kenaikan atau penurunan kas bersih perusahaan.

Perbedaan Antara Arus Kas Metode Langsung Dengan yang Tidak Langsung

Laporan dari arus kas metode tidak langsung bertujuan untuk menghitung pergerakan arus kas dari berbagai aktivitas operasional dengan cara menggunakan informasi-informasi akuntansi akrual dan akan selalu dimulai dengan nilai laba bersih. Nilai dari laba bersih yang kemudian akan disesuaikan dari berbagai macam perubahan dalam akun asset dan juga kewajiban dari laporan neraca. Perbedaan tersebutlah yang nantinya akan semakin menambah atau mengurangi nilai dari laba bersih agar bisa mendapatkan nilai dari arus kas berbagai aktivitas operasional perusahaan.

Sedangkan untuk penggunaan metode langsung, maka satu-satunya bagian terpenting dari laporan arus kas yang masih terlihat lebih berbeda dalam hal penyajiannya adalah pada setiap masing-masing bagian dari arus kas dalam berbagai aktivitas operasional perusahaan. Metode langsung hanya akan mencantumkan berapa banyak total penerimaan kas dan juga brapa banyak pembayaran yang selama ini sudah dilakukan selama periode operasional yang masih berjalan.

Unsur-Unsur Umum yang Terdapat Dalam Komponen Laporan Arus Kas Metode Langsung

Berikut ini merupakan beberapa daftar tentang jenis-jenis penerimaan kas dan juga pembayaran yang paling sering digunakan dalam format berupa metode langsung:

1. Penerimaan Kas dari para pelanggan-pelanggan perusahaan.
2. Pembayaran/Pembelian kepada para pemasok.
3. Pembayaran kepada karyawan berupa (Gaji Pokok Karyawan).
4. Pembayaran bunga dan juga pajak.
5. Pembayarn Kas dari setiap pembelian asset tetap sebagai penunjang operasional perusahaan.
6. Penerimaan kas dari para penerbitan saham perusahaan.
7. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Seperti yang sudah Anda lihat sebelumnya, bahwa untuk daftar pembayaran dan penerimaan tersebut akan lebih banyak memberikan para pengguna dari laporan keuangan cukup informasi-informasi penting tentang dari mana saja sumber-sumber penerimaan dan kepada siapa saja pembayarannya tersebut akan dilakukan.

Hal ini merupakan salah satu keunggulan terpenting dari penggunaan metode langsung apabila dibandingkan dengan penggunaan metode yang tidak langsung. Investor, kreditur, dan pihak manajemen sendiri akan dapat benar-benar melihat dari mana saja perusahaan telah mampu mengumpulkan dana dan terhadap siapa saja perusahaan tersebut harus membayar dana. Namun sayangnya, penggunaan metode yang tidak langsung ini tidak mencantumkan sampai dengan se detail informasi tersebut. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

KOMPONEN DAN LANGKAH-LANGKAH PENGHITUNGAN HPP UNTUK JENIS PERUSAHAN MANUFAKTUR

Harga pokok penjualan (HPP) atau cost of goods sold (COGS) merupakan total dari keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan secara langsung oleh suatu perusahaan agar bisa menghasilkan barang atau jasa yang siap untuk dijual. Dalam dunia industri manufaktur, harga pokok penjualan atau lebih sering disebut juga dengan harga pokok produksi atau cost of goods manufactured (COGM).

Perhitungan HPP yang dilakukan untuk mengetahui berapa besarnya biaya produksi yang nantinya akan dikeluarkan oleh perusahaan pada saat akan memproduksi barang. Biasanya, perhitungan HPP terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan juga biaya overhead.
Untuk mengetahui bagaimana cara dalam menghitung HPP pada perusahaan manufaktur, maka simak beberapa tips dari implementor software accounting berikut ini.

Komponen-Komponen Penentu HPP (Harga Pokok Penjualan)

Agar bisa menghasilkan perhitungan HPP yang yang tepat dan sesuai, maka Anda perlu mengetahui tiga macam komponen paling dasar yang akan menentukannya. Tiga komponen tersebut adalah:

• Persediaan Bahan Baku Awal.

Persediaan bahan baku awal merupakan persediaan barang yang masih tersedia sejak di awal periode atau tahun buku berjalan. Saldo persediaan bahan baku awal ini hanya bisa diketahui dari neraca saldo periode berjalan, atau neraca awal perusahaan, atau neraca tahun sebelumnya.

• Persediaan Bahan Baku Akhir.

Persediaan bahan baku akhir adalah persediaan barang yang tersedia di akhir periode atau akhir tahun buku berjalan. Saldo persediaan bahan baku akhir biasanya hanya akan dapat dilihat pada laporan penyesuaian pada setiap akhir periode.

• Pembelian Bahan Baku.

Pembelian bahan baku yang meliputi seluruh pembelian bahan baku yang sudah dilakukan oleh perusahaan, baik itu berupa pembelian barang secara tunai maupun yang secara kredit. Hal ini juga sudah termasuk biaya angkut pembelian yang sudah dikurangi dengan potongan pembelian dan pengembalian barang (retur pembelian)
.
Langkah-Langkah Dalam Perhitungan HPP

Metode dalam perhitungan HPP pada jenis perusahaan manufaktur yang sedikit berbeda dengan jenis perusahaan jasa maupun dagang. Berikut ini adalah berupa langkah-langkah untuk menghitungnya:

• Hitung Bahan Baku yang Digunakan.

Karena untuk jenis perusahaan manufaktur yang telah memproduksi sendiri barang-barang dagangannya, maka mereka tetap membutuhkan bahan baku. Bahan baku yang merupakan persyaratan utama dalam menghitung harga pokok penjualan pada saat pertama kalinya.
Produsen juga harus ikut terlibat dalam menentukan berapa banyak bahan baku yang nanti akan digunakan untuk memproduksi suatu barang. Untuk menentukannya, maka produsen harus mengecek berapa banyak bahan baku yang masih tersisa pada akhir periode setelah saldo awal periode yang ditambah dengan pembelian yang ada selama periode tersebut sedang berlangsung.

Berikut ini merupakan metode untuk menghitung semua bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi.

Bahan baku terpakai = saldo awal bahan baku + pembelian bahan baku – saldo akhir bahan baku

• Menghitung Biaya Produksi Lainnya

Selain dengan menghitung bahan baku utama, masih ada biaya lainnya yang mempengaruhi proses produksi barang dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi. Biaya tersebut antara lain adalah:

1. Biaya tenaga kerja langsung.
2. Biaya overhead (biaya bahan baku yang lebih bersifat tidak pokok), misalnya seperti biaya listrik, biaya pemeliharaan, biaya reparasi, dan lain sebagainya.

• Menghitung Berapa Total Dari Seluruh Biaya Produksi.

Total biaya produksi sebenarnya sudah mencakup biaya yang nantinya akan dikeluarkan pada saat barang sudah masuk ke dalam proses produksi dan biaya yang akan dikeluarkan untuk memproduksi barang-barang tersebut. Untuk menentukan total biaya produksi, bahan baku barang yang akan diproses pada setiap awal periode produksi harus ditambah dengan bahan baku tidak pokok (misalnya tenaga kerja langsung dan overhead), lalu dikurangi dengan barang yang masih tersisa di gudang pada setiap akhir periode.

• Menghitung Harga Pokok Penjualan.

Nah, sekarang adalah waktunya bagi kita untuk melakukan perhitungan HPP. Caranya adalah dengan menambahkan barang-barang yang sudah selesai diproduksi di gudang pada setiap awal periode dengan harga produksi periode berjalan, kemudian akan dikurangi dengan barang jadi yang masih tersisa di gudang pada setiap akhir periode.

Berikut ini adalah formulanya:
Harga Pokok Penjualan (HPP) = Saldo awal barang jadi (finished) + produksi selesai periode berjalan – saldo akhir barang jadi
Setelah harga pokok penjualan sudah diketahui, maka Anda dapat menghitung pendapatan kotor dari bisnis Anda. dan hal ini adalah jumlah yang sudah diperoleh oleh bisnis Anda dari penjualan sebelum terjadinya pemotongan pajak dan pengeluaran lainnya.

Menghitung Harga Pokok Penjualan Secara Instan

Melakukan perhitungan HPP secara manual memang cukup merepotkan, karena biasanya harus ada banyak dokumen yang akan dilibatkan ketika Anda sudah mencatat setiap komponennya. Dokumen kertas atau spreadsheet yang terpisah memang sangat rawan untuk hilang. Selain itu, perhitungan HPP manual juga sangat rentan terhadap  human error.

Perhitungan HPP instan hanya dapat dibuat menjadi sangat mudah dengan lebih sederhana dengan bantuan dari penggunaan sistem akuntansi online. Dengan sistem akuntansi yang sudah berbasis cloud, maka Anda akan dapat menghitung HPP secara akurat hanya dalam hitungan detik saja. Seluruh data-data keuangan Anda akan dapat dimonitor kapan saja dan di mana saja melalui satu sistem. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

PERBEDAAN DAN HUBUNGAN ANTARA AKUNTANSI UMUM (KEUANGAN) DAN AKUNTANSI PERPAJAKAN

Setelah sebelumnya pernah dijelaskan dalam artikel “PENJELASAN SINGKAT TENTANG PENGERTIAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKUNTANSI KOMERSIAL (KEUANGAN) DAN AKUNTANSI PERPAJAKAN” tentang pengertian dan persamaannya antara akuntansi komersial (keuangan) dan akuntansi perpajakan, maka kini saatnya bagi Anda untuk mengetahui tentang apa saja perbedaan-perbedaan antara akuntansi umum dan akuntansi perpajakan.

1. Pengguna Dari Laporan Keuangan yang Telah Dihasilkan.

Pengguna dari laporan keuangan pada akuntansi komersial atau yang lebih sering disebut sebagai para pemegang saham, kreditur, karyawan, manajemen, karyawan, pemerintah, masyarakat dan lain sebagainya. Sementara para pengguna dari laporan keuangan akuntansi perpajakan, yaitu fiskus.

2. Pedoman Dalam Penyusunan dan Penyajian Laporannya.

Pedoman dalam hal penyusunan dan penyajian dari akuntansi umum/keuangan adalah PSAK sedangkan untuk akuntansi perpajakan adalah undang-undang perpajakan yang masih berlaku.

3. Sifat Informasi yang Sudah Dihasilkan.

Sifat dari informasi pada kedua akuntansi ini juga berbeda. Informasi pada laporan keuangan umum lebih bersifat umum atau dapat digunakan oleh siapa saja. Sementara pada jenis akuntansi perpajakan, laporan keuangan bersifat sangat rahasia. Biasanya yang mengetahui hanya pihak manajemen dan fiskus.

4. Dasar-Dasar yang Digunakan Sebagai Pencatatan.

Transaksi pada akuntansi komersial akan dicatat dengan asas substance over form, yaitu pencatatan dan pelaporan yang dilakukan dengan lebih mengutamakan substansi ekonomi daripada hakikat formal dan juga hukum. Lain halnya dengan akuntansi komersial, transaksi pada jenis akuntansi pajak akan dicatat dan dilaporkan jika memang sudah memenuhi beberapa persyaratan dan ketentuan perpajakan, yaitu dengan lebih mengutamakan hakikat formal atau hukum daripada sekedar substansi ekonomi nya.

5. Mata Uang yang Digunakan.

Laporan keuangan komersial diperbolehkan untuk disusun berdasarkan dari mata uang selain rupiah, sementara akuntansi perpajakan sangat wajib untuk menggunakan mata uang rupiah atau diperbolehkan menggunakan mata uang lain hanya yang sudah diijinkan oleh peraturan saja.

6. Batas Waktu Untuk Penyampaiannya.

Perbedaan yang selanjutnya, adalah tentang batas waktu penyampaian. Menurut UU No. 40 tahun 2007 tentang PT, waktu penyampaian dari laporan keuangan adalah 6 bulan setelah tahun buku berakhir. Sedangkan jika mengacu pada UU KUP, laporan keuangan fiskal harus diserahkan paling lambat adalah selama 4 bulan setelah masa akhir tahun pajak dan dapat diperpanjang paling lambat adalah selama 2 bulan dengan ketentuan tersendiri.

Hubungan antara Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Perpajakan

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dari akuntansi keuangan, Anda akan dapat memperoleh informasi-informasi penting tentang bagaimana keadaan dari suatu entitas pada satu periode tertentu.Informasi keuangan tersebutlah yang nantinya akan dijadikan sebagai dasar acuan dalam pengambilan keputusan. Sementara untuk akuntansi perpajakan jauh lebih khusus lagi apabila dibandingkan dengan akuntansi umum.

Akuntansi perpajakan menyajikan serangkaian informasi keuangan yang berkaitan langsung dengan tingkat kepatuhannya terhadap pemerintah. Meskipun laporan keuangan yang telah disusun berdasarkan peraturan standar akuntansi keuangan secara umum, namun pada beberapa bagian mereka harus disesuaikan dengan ketentuan perpajakan. Sehingga dalam hal akuntansi pajak, jika terdapat suatu ketidaksesuaian antara standar akuntansi yang masih berlaku secara umum dengan ketentuan perpajakan, maka perusahaan juga harus lebih memprioritaskan untuk mematuhi undang-undang perpajakan. Hal ini karena pajak merupakan sebuah kewajiban (complience tax).

Sama halnya dengan akuntansinya, laporan keuangan yang telah dihasilkan juga berbeda. Bisa saja misalnya sebuah perusahaan yang telah melaporkan laba dari tahun berjalan pada laporan keuangan komersial dan pajak nya juga berbeda. Dalam bidang akuntansi, hal tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, jika nanti pada akhirnya akan ada sebuah proses penyamaan, yang biasanya disebut dengan rekonsiliasi. Maka laporan keuangan pajak akan disusun dengan proses rekonsiliasi antara akuntansi komersial dan akuntansi pajak dan hal ini berdasarkan dari peraturan standar akuntansi keuangan 46 (PSAK 46). Di mana hal ini juga sudah sesuai dengan penyusunan laporan keuangan lengkap yang sesuai dengan PSAK 1. Sehingga laporan keuangan fiskal yang telah dihasilkan disebut juga dengan extra comptable.

Jadi penyusunan laporan keuangan fiskal sama halnya dengan penyusunan laporan keuangan komersial, yang dimulai dari proses input transaksi yang berdasarkan dari bukti-bukti transaksi ke dalam jurnal, kemudian diposting dalam buku besar, pembuatan neraca lajur, penyesuaian sampai akhirnya nanti pada laporan keuangan. Selanjutnya, untuk bisa menghasilkan laporan keuangan fiskal maka akan dilakukanlah rekonsiliasi terhadap peraturan perpajakan.

Dengan kata lain, akuntansi perpajakan dengan akuntansi komersial memiliki hubungan yang sangat erat, mereka tidak dapat dipisahkan karena untuk membuat akuntansi perpajakan atau laporan keuangan fiskal perlu adanya akuntansi komersial. Sebuah perusahaan juga pasti bisa berdiri dalam suatu negara, jadi laporan keuangan yang akan dibuatpun tidak hanya harus berdasarkan dari SAK saja, akan tetapi juga harus tetap memperhatikan ketentuan perpajakan/ akuntansi pajaknya.

Itulah perbedaan dan hubungan antara akuntansi komersial (keuangan) dan akuntansi perpajakan yang perlu untuk Anda ketahui. Agar dapat membantu Anda dalam membuat laporan keuangan baik itu berupa laporan keuangan komersial maupun perpajakan dengan lebih mudah, maka Anda dapat menggunakan bantuan dari software akuntansi yang sudah berbasis online/cloud dari mana saja dan kapan saja. Apabila para pembaca sekalian membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 / 081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

BUKTI-BUKTI AUDIT (AUDIT EVIDENCE) DAN BEBERAPA PENJELASANNYA

Bukti audit atau yang lebih sering disebut dengan (Audit Evidence) merupakan segala macam bentuk informasi-informasi penting yang dapat digunakan oleh para auditor sebagai dasar acuan dalam memberikan opini mereka. Bukti-bukti audit dapat berbentuk nominal atau berupa pernyataan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertullis atau berupa ucapan lisan yang sudah di konvensi agar menjadi bentuk pernyataan yang tertulis dan lebih relevan dengan penyajian dari laporan keuangan.

Banyaknya jenis-jenis bukti audit yang selama ini sudah digunakan sebagai satu dasar untuk penentuan opini dari tingkat kewajaran laporan keuangan. Keterbatasan dalam hal mengakses terhadap bukti-bukti audit dapat juga mempengaruhi bagaimana opini dari tim auditor dalam memberikan pernyataan dalam laporan keuangan. Semakin banyak bukti-bukti yang telah dikumpulkan, maka akan semakin memperkuat pernyataan atas laporan keuangan yang sudah diterbitkan.

Pengumpulan bukti-bukti audit yang sudah dilakukan sebelum terjadinya pemeriksaan lapangan, lebih tepatnya pada saat terjadi audit plan atau semacam perencanaan audit. Pemilihan bukti-bukti audit juga dapat mempengaruhi waktu terjadinya pemeriksaan, sehingga diharapkan pada saat melakukan perencanaan audit, maka bukti yang akan dapat diperiksa cukup mampu dalam memberikan berbagai informasi-informasi penting dan cukup kompeten.

Bukti bahwa sebenarnya audit juga dapat diperoleh pada saat terjadi pemeriksaan. Misalnya bukti-bukti yang telah diperoleh saat proses pengamatan, inspeksi, pengajuan pertanyaan, dan juga konfirmasi atas kebenaran dari saldo. Dan seandainya masih terdapat adanya sebuah kebijakan perusahaan yang dinilai akan beresiko untuk menyebabkan terjadinya resiko dikemudian hari, maka pihak auditor masih perlu untuk mencatatnya pada laporan manajemen yang kemudian harus meminta bagaimana tanggapan mereka.

Audit merupakan tindakan introgative, yaitu bertujuan untuk memeriksa tingkat kewajaran dari laporan keuangan yang telah disajikan oleh pihak manajemen serta untuk memeriksa bagaimana kepatuhanya terhadap Prinsip-Prinsip Akuntansi yang masih berlaku. Pada kondisi tertentu pihak Auditor berhak untuk tidak memberikan pendapat apapun.

Berikut ini praktisi software accounting akan memberikan beberapa jenis dari bukti-bukti audit beserta dengan penjelasannya.

1. Bukti Fisik.

Merupakan suatu bukti yang sudah diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, misalnya dari hasil pemeriksaan persediaan, pemeriksaan kas, observasi dari aktiva tetap. Bukti-bukti fisik ini memang seharusnya diperoleh dari pemeriksaan dan perhitungan obyek yang sudah memilki bentuk yang nyata.

2. Bukti Konfirmasi.

Adalah bukti yang sudah diperoleh dari berbagai tindakan-tindakan konfirmasi terhadap pihak ketiga. Konfirmasi ini biasanya akan dilakukan untuk menanyakan bagaimana kebenaran dari saldo yang telah disajikan pada laporan keuangan. Oleh karena bukti ini dianggap sebagai salah satu bukti yang jauh lebih handal dari pada bukti-bukti yang sudah diperoleh dari perusahaan, maka pihak yang akan menjadi sasaran dari surat konfirmasi diharapkan akan mampu dalam memberikan pernyataan  yang sebenarnya dan dengan sejujur-jujurnya. Pihak-pihak yang telah dikirimkan surat konfirmasi, baik dari mitra bisnis auditee misalnya suplier, konsumen dengan nilai piutang terbesar maupun dari pihak yang independen misalnya kantor hukum.

3. Proses dokumentasi.

Suatu bukti yang sudah diperoleh dari pemeriksaan catatan transaksi keuangan. Proses seperti ini biasanya lebih sering disebut dengan pemeriksaan kepada bukti transaksi atau lebih dikenal dengan Vouching. Beberapa catatan akuntansi yang lebih sering diperiksa adalah bukti-bukti transaksinya, yaitu:

• Bukti kas masuk dan kas keluar.
• Surat pesanan pembelian.
• Dokumen pengapalan/bill of leading.
• Duplikat faktur penjualan dan lain sebagainya.

4. Observasi.

Suatu tindakan yang sudah dilakukan untuk memperoleh bukti-bukti audit dengan cara menggunakan panca indra. Misalnya memanfaatkan indera penglihatan, indera pendengaran, sentuhan, penciuman. Bukti audit yang dapat diperokeh melalui pengamatan yaitu bukti yang memiliki wujud, bentuk fisik. Bukti audit dari hasil observasi adalah sebagai berikut:

• Hasil pengamatan terhadap berbagai fasilitas-fasilitas yang telah disediakan oleh perusahaan.
• Barang-barang yang sudah tersimpan baik yang masih memang berfungsi maupun yang sudah mendekati akhir dari masa ekonomisya

5. Inquiries.

Bukti-bukti yang berasal dari peryataan atau jawaban atas berbagai pertanyaan-pertanyaan dari pihak auditor yang baik yang sudah berbentuk tulisan maupun yang berupa lisan. Bukti yang berupa lisan dapat diperoleh melalui pertanyaan-pertanyaan dan bukti-bukti tertullis yang hanya dapat diperoleh dari berbagai jawaban atas pertanyaan tertulis. Auditor juga bisa mendapatkan bukti tertulis dari pertanyaan lisan dengan cara menkonversi menjadi pernyataan tertulis kemudian memintanya tanda tangan.

6. Perhitungan.

Suatu bukti yang sudah diperoleh dari beberapa kali pengujian perhitungan kembali. Para auditor dapat memberikan tanda-tanda pada kertas kerja bahwa saldo yang sudah diperiksa perhitungannya telah dilakukan dengan sangat cermat dan tepat. Perhitungan kembali yang harus dilakukan untuk memeriksa tingkat kecermatan perhitungan yang seblumnya telah dilakukan oleh auditee.

7. Reperformance.

Bukti-bukti penting yang sudah diperoleh dari pemeriksaan prosedur kerja yang masih berlaku dan masih bisa dijalankan oleh pihak auditee termasuk juga tentang pengendalian internalnya. Tujuan dari dilakukan reperformance ini adalah untuk menguji sampai seberapa handal informasi-informasi keuangan yang sudah dihasilkan. Analisis otorisasi melalui pemeriksaaan specimen sangat perlu untuk dilakukan agar bisa mengetahui kuat dan efektifnya penerapa dalam hal pengendalian internal perusahaan.

8. Tes analisis.

Suatu bukti yang sudah diperoleh dengan cara membandingkan dari beberapa saldo sampai dengan membentuk sebuah rasio. Tujuan dari dilakukannya analitikal prosedur adalah untuk menilai bagaimana tren, dengan cara membandingkan rasio dari periode yang berjalan dengan rasio periode yang lalu. Selain itu penjelasan atas berbagai tren, baik yang menurun atau yang sudah meningkat dapat digunakan sebagai salah satu dari bukti audit.

Nah, begitu sedikitnya penjelasan tentang bukti-bukti audit. Terima kasih telah berkunjung ke website kami. Apabila para pembaca membutuhkan konsultasi seputar manajemen, membutuhkan pembenahan tentang Standar Operational Procedure (SOP) dan membutuhkan Accounting Software, maka para pembaca sekalian dapat menghubungi groedu@gmail.com atau kontak  081-252-982900/081-8521172. Kami siap membantu Anda dan sampai bertemu pada pembahasan artikel yang selanjutnya.

Scroll to top